Menjadi Pemimpin Sederhana

0
5829
[Foto: http://ink361.com/]

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc*

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا

فسبحانه من قسام ما أعدله، ومن قهار ما أحلمه، ومن جواد ما أكرمه، ومن عليم ما أعلمه. لا يعزب عنه مثقال ذرة في السموات ولا في الأرض ولا يغادر صغيرا ولا كبيرا

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Hadirin Jumah Yang Berbahagia

Tersebutlah seorang sahabat Nabi bernama Said bin Amir Al-Jumahy. Ia seorang yang zuhud, adil dan bijaksana. Oleh Sayidina Umar, ia ditunjuk sebagai Gubernur Suriah. Suatu ketika dalam sebuah beberapa rakyat Suriah disuruh Umar untuk mendaftar 10 nama rakyat Suriah yang paling miskin. Ternyata Gubernur Said berada di nomor 1 rakyat Suriah termiskin!

Melihat hal ini, Umar menangis tersedu-sedu dan memerintahkan untuk mengirimi Said uang sebesar 1000 dinar yang merupakan uang dari tabungan pribadi Umar, bukan uang dari kas negara seperti lazim dilakukan oleh pejabat-pejabat kita saat ini.

Hadirin Rohimakumullah

Kemudian ketika kiriman uang itu diterima Gubernur Said, ia berteriak keras seperti orang menerima sebuah berita buruk, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!”. Mendengar teriakan ini, kontan istri Said bertanya, “ada gerangan apa wahai suamiku? Mengapa engkau berteriak seperti itu? apakah Umar wafat?”. Said menjawab, “bukan, tetapi yang aku terima ini lebih buruk daripada kematian Umar!”

“Umar telah mengirimi aku sepotong api neraka!” Subhanallah, Gubernur Said menganggap uang kiriman dari tabungan pribadi Umar itu sebagai sepotong api neraka. Bagi Said, gajinya sebagai Gubernur yang tak seberapa besar itu sudah cukup. Dan ia merasa tidak berhak menerima uang bonus dari Umar yang waktu itu adalah atasan Said.

Berikutnya, Said kemudian berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, maukah engkau merubah neraka ini menjadi surga?” Sang istri menjawab, “ya wahai suamiku tercinta! Aku bersedia memenuhi segala perintahmu, apalagi untuk membantumu meraih keridloan Allah”.

Maka Said dan istrinya (tanpa dikawal oleh pegawai-pegawai kegubernuran) kemudian membagi-bagikan uang kiriman Umar itu kepada fakir miskin dan yatim piatu serta janda-janda di Suriah.

Hadirin Rohimakumullah

Kisah Gubernur Said masih berlanjut. Kemudian setelah mendengar sikap Said seperti itu, maka Umar memutuskan mengunjungi Suriah untuk melihat secara langsung kondisi Suriah dan Gubernurnya.

Setiba di Suriah, Umar mengumpulkan seluruh rakyat beserta gubernurnya di sebuah masjid terbesar di sana. Di hadapan rakyat Suriah, Umar berkata, “Wahai saudara-saudaraku, ini aku Umar Khalifah kalian dan ini Said gubernur kalian. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian memiliki keluhan terhadap gubernur kalian dalam memimpin kalian atau dalam menjalankan roda pemerintahan di propinsi kalian ini?”

Berikutnya salah seorang wakil rakyat Suriah memberanikan diri maju dan berkata kepada Umar, “Wahai Sang Khalifah, segala puji bagi Allah. Sebenarnya kami tidak memiliki keluhan apapun terhadap Gubernur kami. Ia begitu adil dan zuhud hingga seperti yang kami laporkan pada paduka beberapa waktu lalu, Said gubernur kami itu adalah orang yang paling miskin di wilayah kami. Namun izinkan kami untuk melaporkan 3 hal yang selama ini menjadi ganjalan hati kami: pertama, gubernur kami setiap hari jika pergi ‘ngantor’ selalu kesiangan. Kedua, setiap akhir bulan, gubernur kami seharian penuh mengunci diri di rumahnya dan tak seorang pun bisa menemuinya. Dan ketiga, gubernur kami sering tiba-tiba pingsan di hadapan kami.

Mendengar ini, Umar langsung naik pitam dan bertanya kepada Said Sang Gubernur, “Wahai Said, benarkah semua keluhan rakyatmu itu?”. Said menjawab, “Benar, wahai Khalifah!”. Umar langsung menimpali, “Mengapa kamu seperti itu?”. Untuk beberapa saat Said diam seribu basa hingga Umar semakin marah dan berkata dengan nada tinggi, “Said, jawablah tiga keluhan itu satu persatu, atau aku akan menghukummu dengan hukuman yang berat!”.

Hadirin Rohimakumullah

Berikutnya Said menjawab, “Untuk keluhan pertama, sebenarnya aku malu menjawabnya, tetapi demi ketaatanku pada Khalifah, maka terpaksa aku haturkan bahwa aku setiap hari memang selalu kesiangan berangkat ke kantor. Itu karena aku tidak punya pembantu di rumah. Dan sejak setelah subuh, aku membantu istriku membuat roti untuk sarapan keluargaku, mulai dari menumbuk gandum hingga menunggu bahan roti mengembang dan kemudian menyulut panggangan roti hingga menyuapi anakanakku yang masih kecil.

Adapun untuk keluhan kedua, sebenarnya aku juga sangat malu untuk menjawabnya karena aku khawatir jawabanku nanti seolah-olah mengandung rasa kurang bersyukur kepada Allah. Tetapi sekali lagi karena ketaatanku padamu wahai Umar, maka dengan terpaksa aku mengakui bahwa setiap akhir bulan aku memang selalu mengunci diri di rumahku seharian penuh. Alasanku berbuat seperti itu karena bajuku memang hanya satu potong, yaitu yang aku pakai ini. Dan aku mencuci bajuku satu-satunya itu sebulan sekali dan aku menantinya hingga kering dari jemuran. ”

Mendengar ini, Umar menangis tersedu-sedu di hadapan ribuan rakyat Suriah hingga beberapa saat lamanya.

Setelah tangisnya reda, Umar bertanya lagi, “Lalu apa jawabanmu terhadap keluhan ketiga?”. Said menjawab, “Aku memang sering tiba2 pingsan, yaitu karena aku sering teringat pembantaian terhadap salah seorang Sahabat Nabi yang bernama Hubaib bin Uday di tangan kaum kuffar Quraisy. Waktu itu aku belum masuk Islam dan aku menyaksikan Hubaib dibantai di tengah-tengah alun-alun Mekkah dengan sangat sadis. Ia disayat-sayat kulitnya dan dimutilasi dalam keadaan hidup-hidup dan ia tidak berteriak kesakitan sedikitpun. Ia hanya berdoa, “Wahai Allah Engkau Maha Menghitung mereka yang menghadiri penyiksaanku ini. Maka balaslah mereka satu persatu dengan balasan yang setimpal! Allahumma ahshihim ‘adada waqtulhum badada. Demikian doa Hubaib”.

Kemudian Said menambahi, “dan aku waktu itu menyaksikan pembantaian itu dan aku khawatir jika aku termasuk dalam doa Hubaib itu. ”

Hadirin Rohimakumullah

Hampir menjadi keyakinan di hati kita bahwa cerita seperti itu kini mustahil ada dan terjadi di sekitar kita. Bahkan banyak di antara kita yang cenderung menganggap bahwa cerita-cerita seperti itu hanya khayalan belaka atau bahkan hanya pantas dijadikan sebagai dongeng atau legenda yang diceritakan kepada anak-anak kecil menjelang tidur.

Hampir menjadi keyakinan kita bahwa cerita-cerita seperti itu sangat fantastis hingga kita sulit untuk mempercayainya.

Baiklah, para hadirin yang mulia,

Jika kita masih memiliki pemikiran seperti itu atau jika kita cenderung berkata bahwa cerita-cerita seperti itu hanya mungkin terjadi karena setting dan latarbelakang sosial waktu itu memungkinkan. Kita hampir serempak sepakat bahwa seorang Gubernur dalam setting social masa sekarang adalah msutahil jika hanya memiliki satu potong pakaian karena itu tidak lazim dan tidak lumrah! Sebagaimana kita juga akan mudah mengkritik Said yang terlambat pergi ke kantor karena harus menumbuk gandum dan memanggang roti terlebih dahulu. Bagaimana mungkin seorang Gubernur atau bahkan kepala desa sekalipun pada saat ini harus menanak nasi hingga ia pergi ke kantor kesiangan.

Hadirin Rohimakumullah

Said pergi ke kantor kesiangan hanya sampai sekitar pukul 8 pagi! Dan kemudian Said bekerja di kantor hingga menjelang Maghrib. Ia makan sambil bekerja, bukannya mengkhususkan waktu sendiri untuk acara makan. Ia seringkali makan bersama tamunya yang kebanyakan adalah dari rakyat jelata yang kebetulan tengah bertamu kepada sang Gubernur. Apa yang dimakan oleh Said juga sama persis dengan apa yang dimakan oleh tamunya hingga tidak perlu menghabiskan budget selangit untuk membiayai setiap penjamuan para tamu.

Sebagaimana yang juga menarik kita cermati dari kisah di atas adalah bahwa istri sang Gubernur sama sekali tidak mata duitan. Sang istri dengan sigap menyambut ajakan sang suami untuk membagi-bagikan uang 1000 dinar kepada yatim piatu dan fakir miskin yang kemudian justru menjadi lebih kaya ketimbang Gubernur Said sekeluarga, sebab gaji Said sebagai seorang Gubernur waktu itu tak lebih dari belasan dinar.

Istri Said adalah istri teladan yang justru tidak menggunakan kesempatan kemegahan sang suami sebagai pejabat negara utk berfoya-foya dan hanya mengenal satu mall ke mall yang lain atau tidak pernah tahu manakah rakyatnya yang tidak bisa makan seharian penuh! Istri Said tidak menuntut suaminya agar menyediakan pembantu rumah tangga dan Said sendirilah yang membantu sang istri dalam pekerjaan rumah. Said tidak mau menyediakan pembantu bagi istrinya, bukan karena ia pelit tetapi memang karena ia masih merasa mampu dan pantas jika sekedar melaksanakan salahsatu pekerjaan rumah yaitu menumbuk gandum dan memanggang roti. Subhanakallahumma.

Hadirin Rohimakumullah

Sekali lagi, menyimak cerita tersebut, banyak di antara kita yang cenderung menganggap cerita itu sebagai khayalan belaka. Atau bahwa cerita itu sudah tidak sesuai dengan pola hidup masa sekarang.  Bagaimana mungkin seorang Gubernur harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Bukankah kesibukan Gubernur sangat padat? Bukankah pola pemerintahan dan pergaulan protokoler pejabat sekarang ini sangat rumit dan memakan banyak waktu? Tidakkah dhalim jika waktu sang Gubernur digunakan untuk memanggang roti atau mencuci baju sendiri sementara pekerjaan kantor semakin menumpuk karena tanggung jawab kepemerintahan saat ini lebih rumit ketimbang tanggungjawab pemerintah masa lalu yang masih sangat sederhana?

Hadirin Rohimakumullah

Pertanyaan-pertanyaan seperti yang tersebut terakhir itu memang kelihatan sangat masuk akal. Tetapi sebenarnya kita bisa menjawabnya dengan pertanyaan-pertanyaan balik seperti berikut ini: Bukankah teknologi sekarang semakin canggih? Bukankah kecanggihan teknologi itu justru bertujuan untuk menyederhanakan dan mengefisienkan pekerjaan-pekerjaan kita? Mengapa justru kita temui pekerjaan kita semakin menumpuk dan tidak sederhana seperti pada masa-masa Gubernur Said, padahal teknologi kita justru semakin canggih? Ketika Said masih butuh mencuci dengan tangan sendiri, bukankah sekarang sudah ada mesin cuci full otomatis? Ketika Said masih butuh memanggang roti, bukankah sekarang kita tinggal membeli roti? Atau bukankah sekarang ini mudah ditemui oven otomatis atau microwave yang tidak perlu kita tunggui?

Hadirin Rohimakumullah

Kita seperti tidak pernah sadar bahwa kita ini memang semakin pintar mencari-cari alasan untuk mengelak dari tanggungjawab kita yang semestinya. Kita semakin pandai menyusun program-program kerja yang rumit dan tidak efisien serta sekedar hanya untuk menghabiskan anggaran, terutama ketika hendak mendekati masa-masa tutup buku keuangan.

Hadirin Rohimakumullah

Itulah sedikit renungan yang sudah selayaknya kita ambil intisarinya dengan penuh kelapangan hati, dengan ketawadlu’an dan kerendahan hati yang luas. Kita berharap agar cerita Said itu dapat sedikit mengetuk pintu hati kita, bukannya justru membuat kita tersinggung dan marah atau kalap dan mata gelap. Kita semua merasakan dan menyadari bahwa hidup kita dari hari ke hari semakin ruwet dan tidak sederhana seperti kehidupan-kehidupan di masa lalu. Kita terlanjur meyakini bahwa paham-paham modernisme yang kita anut itulah yang layak untuk kita jadikan sebagai panutan dalam kehidupan kita saat ini. Padahal bukankah kita sebenarnya sering merindukan kesederhanaan hidup seperti nenek moyang kita? Bukankah kita sekarang sering mendengar seruan back to nature, kembali ke alam yang asri, back to green, kembali ke hijau-hijaun, dan seterusnya dan seterusnya?

Bukankah seruan-seruan semacam itu sebenarnya merupakan bentuk kerinduan kita akan kesederhanaan hidup?

الحديث: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم ، أو كما قال: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن، إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين، وإن عاقبتم فعاقبوا بمثل عوقبتم به ولئن صبرتم لهو خير للصابرين، واصبر وما صبرك إلا بالله ولا تحزن عليهم ولا تك في ضيق مما يمكرون

وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

 ====

Khutbah II

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، بحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. الللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

*Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah