Gus Yusuf : Anak Perlu Disiapkan Mendoakan Keluarga

0
1610
KH Yusuf Chudlori [Foto: Rois]

Sragen, nujateng- Suatu ketika Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya berjalan melewati sebuah pemakaman. Tiba-tiba nabi mendengar teriakan ahli kubur, sontak ia memanggil para sahabat.

Kata Nabi, ada orang yang menangis, teriak minta tolong. Namun, sahabat tidak mendengarnya. Lalu dicarilah sumber suara tadi. “Ini lho, ada ahli kubur, sedang teriak-teriak. Nabi kemudian mengambil pelepah kurma dan berdoa. Ya Allah! selama pelepah kurma ini masih basah, semoga Engkau memberikan ahli kubur ini, bebas dari azab kubur,” kisah KH Yusuf Chudlori, di depan para jamaah pengajian Jamuro di Sragen, belum lama ini (23/4).

Menurut Gus Yusuf, dari kisah tersebut dapat diambil sebuah kesmimpulan para ahli kubur, masih membutuhkan doa dari para keluarga dan orang yang masih hidup. “Untung saat itu ada Nabi. Kalau zaman sekarang sudah tidak ada nabi, sekarang siapa lagi yang mau mendoakan?” kata dia.
Untuk itulah, anak perlu dipersiapkan sedari dini, agar kelak para orang tua yang sudah meninggal, tidak perlu lagi teriak-teriak kebutuhannya dari alam kubur.

“Anak perlu disiapkan, agar tidak menyesal di kemudian hari. Agar anak dapat mendoakan orang tua. Malam jumat seperti ini, anak diajarkan untuk membaca doa tahlilan dan sebagainya. Anak yang mendoakan orang tuanya, inilah yang disebut sebagai anak solih dan solihah,” tutur Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang itu.

Namun, untuk menjadikan anak agar dapat berbakti kepada orang tua juga mesti memenuhi dua syarat. “Pertama, kalau orang tua ingin dicintai anak, syaratnya orang tua juga mesti  mencintai anak. Anak keluyuran, orang tua jangan diam saja,” ujarnya.

Mencintai anak, bukan berarti menuruti semua kemauannya. Tetapi mengarahkan dan menjaga agar anak terhindar dari neraka. “Kedua, berikan pendidikan yang baik, disekolahkan di Ma’arif , Pesantren, dan sekolah Islam,” imbuhnya.

Setidaknya dua syarat tersebut mesti dipenuhi, agar anak menjadi solih dan solihah serta berbakti kepada kedua orang tua. [Ajie Najmuddin/002]