Gus Rozin Minta 22 Oktober Jadi Hari Santri

0
1049
Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh, menyampaikan sambutan dalam pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Kiai se-Jawa Tengah. [Foto: Nazar Muhammad]

Ungaran, nujateng.com- Kehadiran Presiden RI Joko Widodo dengan para kiai dan tokoh agama se-Jawa Tengah dimanfaatkan oleh para peserta untuk mengungkapkan unek-uneknya. Salah satu peserta yang diberi kesempatan menyampaikan unek-uneknya itu Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati, Jawa Tengah, Gus Rozin.

Ketua RMI Jateng itu meminta kepada Presiden Jokowi untuk memberi perhatian dan keperpihakan pada pesantren. Dia kemudian meminta agar pemerintah mengabulkan tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari santri.

“Kami berharap agar perhatian dan keperpihakan pak Presiden terhadap pesantren. Kami minta agar hari santri pada tanggal 22 Oktober ditetapkan, karena itu bertepatan dengan resolusi jihad,” kata Ketua Sekolah Tinggu Matholiul Falah (Staimafa) Pati itu, Rabu petang.

Selain Gus Rozin, unek-unek juga muncul dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Pedurungan, KH Ubaidullah Shodaqoh. Menurut Rais Syuriah PWNU Jateng itu, perhatian pemerintah kepada organisasi masyarakat yang merongrong pancasila harus tegas. Mereka tidak boleh dibiarkan berkembang, karena berpotensi mengganggu kedaulatan negara, meski dilindungi haknya untuk berkatifitas di muka publik.

Selain itu, kiai Ubaid juga meminta agar pemerintah memberi apresiasi kepada ormas yang setia dan terus mendukung pancasila dan NKRI. “Mohon bapak Presiden, agar ormas yang mendukung ideologi pancasila dan kedaulatan NKRI,” tandas kiai Ubaid. [Nazar Muhammad/002]