Deudeuh Alfi Syahrin dan Doa Ampunan

8
1810
[Foto: m.infospesial.net]

Oleh: KH Ubaidulllah Shadaqah

Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah

Adalah Deudeuh Alfi Syahrin, nama yang sangat indah dan menarik. Setidaknya dengan dua suku terakhir, siapa saja yang memberikan nama kepadanya mengharap kehidupan si jabang bayi itu kelak mulia dan bahagia di dunia dan akhirat (dunyan wa ukhran). Lebih-lebih apabila yang memberikan nama adalah ibu atau bapaknya, tentu dilatarbelakangi dengan pengalaman spiritual dari ayat “alfi syahrin” yang tidak asing lagi bagi orang-orang yang akan mendekat ke Hadratul Quds (Pangkuan Suci).

Alfi Syahrin bukanlah Nareswati Ken Dedes yang siapapun mengawininya maka akan lahir seorang raja dalam legenda Jawa. Dia tak sehormat Geisha di Jepang. Tidak seinspiratif Aspasia 2400 tahun yang lalu dari Athena sang pecinta dari Pericles. Juga tidak seberuntung Thais, wanita hetaera (penjaja di zaman Yunani) yang sempat diperistri oleh Alexander the Great dan kemudian berpindah sebagai permaisuri raja Ptolomeus Mesir. Kisah Alfi Syahrin tidak ada yang akan meng-operakan, dikenang. Nasibnya sangat menyedihkan sebagaimana kisah Alfi Lailah wa lailah pada bagian yang memilukan, bahkan mungkin akan disumpah serapahi oleh kaum agamawan.

Tidak ada seorang bapak atau ibu muslim-muslimah yang mengharapkan anaknya jadi wanita penghibur. Husnudhdhan saya, ibunya bukanlah Unaizah yang rela menyerahkan anak cantiknya kepada Qudar bin Salif. Alfi bukan pula seorang anak sebagaimana Shoduf bintu Makhya bin Dahr, janda cantik kaya raya yang memasrahkan dirinya pada Mashda’ bin Mahraj, asalkan kedua laki-laki itu mau membunuh unta Nabi Sholeh as.

Namun diakui atau tidak, Alfi lahir di tengah masyarakat yang beranggapan bahwa wanita sebagai “pelayan” laki-laki. Dia hidup di tengah wanita sosialita, istri pejabat yang sering memamerkan kekayaan. Atau bahkan istri agamawan yang sering bergaya glamor. Dia lahir dari umat manusia yang pernah menjadikan hasil prostitusi untuk menghidupi kuil dan pendeta-pendetanya. Dia hidup di tengah masyarakat yang gagal menghargai wanita meskipun pekik lantang emansipasi selalu terdengar nyaring. Hidup di alam dan zaman yang melahirkan begal-begal muda, di tengah segala aturan thethekbengek pendidikan formal yang tidak jelas arahnya.

Prostitusi memang pekerjaan yang hina dan sangat tercela, namun masalahnya tidak akan selesai hanya dengan ucapan laknat. Dia bukan hanya dosa wanita saja, tapi juga dosa kaum laki laki yang tidak bertanggungjawab, dosa masyarakat yang menganggap perselingkuhan adalah hal biasa, sedangkan matsna tsulatsa ruba’a adalah suatu aib.

Alfi Syahrin, dengan namamu itu sepantasnya engkau memakai jilbab menenteng kitab bersenandung sholawat. Yah, memang nasib tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Jikalah syahadatmu masih ada, bagaimanapun aku tetap mendoakan: “Semoga Allah mengampunimu.”

Allâhumma, sallim, sallim, sallim dzurriyâtanâ wa thullâbanâ wa nisâ`a-lmukminîn.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Diceritakan dari Abî Hurairah, dari Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat; apabila menyaksikan suatu kejadian, maka berbicaralah yang baik atau berdiamlah. Hendaklah kalian menjalankan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Apabila engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, apabila engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Laksanakanlah pesanku, berbuat baik kepada wanita.”