Konflik sebagai Fenomena Interaksi Self, Mind dan Society

0
789

Semarang, nujateng.com- Konflik, dalam perspektif teori interaksionisme simbolik merupakan hasil pertukaran antara dua jenis self dan mind yang berbeda. Perbedaan ini lalu membentuk society yang berbeda pula. Melalui perspektif ini, dinamika tersebut dapat dibaca sebagai eskpresi masyarakat beragama (tadayyun) untuk menjelaskan tentang bagaimana penjagaan agama (hifzh al-din) diformulasikan.

Penilaian demikian ditegaskan Dosen UIN Walisongo Semarang, Fakhrudin Aziz, dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (PW Lakpesdam NU) Jawa Tengah di Kantor PWNU Jawa Tengah Jalan Dr Cipto 180 Semarang, Jum’at (27/2) sore. Adapun diskusi tersebut mengambil tema ‘Konflik dan Rekonsiliasi dalam Masyarakat Plural: Studi di Kabupaten Jepara Jawa Tengah’ dengan dimoderatori Sekretaris PW Lakpesdam NU Jawa Tengah, Tedi Kholiludin.

Tema di atas merupakan intisari dari tugas akhir Fakhrudin di program doktoral UIN Walisongo. Ia mengambil Jepara, khususnya Desa Bondo dan Dermolo sebagai studi kasusnya. Fakhrudin menjelaskan bahwa di Dermolo, selain hanya ada satu aliran yaitu GITJ (Kristen) dan Mahayana (Budha), Pendeta dalam Kristen dan Upasaka/Upasika dalam Budha menjadi figur sentral, sehingga potensi konflik dapat dieliminir. Kalaupun terjadi, kata dia, bersifat laten. “Demikian juga di Bondo. Lebih kurang enam aliran Kristen, yaitu GITJ, GKI, GKMI, GPI, GKSI dan GKJ tak menunjukkan konflik internal secara manifes,” ungkap pria berkacamata ini.

Selain itu, dia menyampaikan bahwa bagi penganut Kristen, pendirian gereja adalah panggilan suci. Namun pada saat yang sama, lanjut dia, muncul penolakan. Fakhrudin menerangkan, fenomena berbeda terjadi di Bondo. Menurutnya, muslim dan non-muslim bisa saling bahu membahu dalam pendirian rumah ibadah. “Bagi mereka, agama adalah mentransformasikan kebaikan tanpa memandang identitas agama,” terang sekretaris PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jateng tersebut.

Kendati demikian, Fakhrudin mengaku bahwa pandangan tersebut melahirkan sikap toleran terhadap kelompok lain. Sehingga, lanjut dia, pendirian gereja tak diartikan sebagai ancaman ideologis, melainkan bagian dari fastabiqul khairat. “Hal penting yang perlu dicatat bahwa terwujudnya stabilitas hubungan antarumat beragama itu ditentukan oleh the silent majority, yaitu kelompok nasionalis,” bebernya.

Lebih jauh dia menambahkan bahwa agama dikonstruksi oleh masyarakat Desa Dermolo dan Bondo sebagai kebenaran alamiah dan kebenaran ilmiah. Menurutnya, kebenaran alamiah berdasarkan atas keluhuran kultur warisan nenek moyang yang melekat dengan kearifan lokal (law in action). “Kebenaran ini melahirkan agama kaum nasionalis. Adapun kebenaran ilmiah didasarkan pada doktrin teologis (law in books). Transformasi ini lalu melahirkan agama kaum agamis,” pungkasnya. [Munif/001]