Kemenag Kabupaten Semarang Beberkan Ciri-ciri ISIS

1
724
TOLAK ISIS: Perwakilan santri dan pelajar mendeklarasikan gerakan anti radikalisme agama usai mengikuti diskusi bertema 'Mewaspadai Masuknya Ajaran Islam Radikal pada Jalur Pendidikan' yang diselenggarakan Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang di Gedung Dharma Satya, Sabtu (28/3). [Foto: KS]

Ungaran, nujateng.com- Ciri penganut Islam radikal menurut Buku Jaringan Al-Qaeda diantaranya, merupakan pertemuan paham yang dianut salah satunya oleh Osama Bin Laden dengan mujahid lainnya di Afganistan. Keterangan tersebut disampaikan Kasi Pendidikan Islam Kemenag Kabupaten Semarang, Taufikurrohman saat menjadi pembicara diskusi bertema ‘Mewaspadai Masuknya Ajaran Islam Radikal pada Jalur Pendidikan’ yang diselenggarakan Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) di Gedung Dharma Satya, Sabtu (28/3).

Dalam buku, disebutkan pula ada dua kriteria musuh, meliputi musuh jauh dan musuh dekat. Musuh jauh lebih ditujukan kepada Amerika dan sekutunya, sedangkan musuh dekat lebih kepada pemerintah atau negara yang menyetujui aksi atau mendiamkan dan bersahabat dengan Amerika.
“Berangkat dari kesimpulan itu, karena di Afganistan tidak ada medan perang maka akhirnya mengarah ke Suriah. Di situlah dirancang untuk perang para mujahid. Di sana hanya ada dua gerakan besar, tetapi kelompok-kelompoknya banyak,” terangnya.

Untuk menangkal radikalisme di kalangan pelajar, menurutnya, butuh peran guru, orang tua, dan masyarakat. Terlebih baru-baru ini ada kecenderungan kelompok Islam radikal yang mulai merekrut kaum muda untuk dijadikan anggota karena mereka masih labil secara emosional serta lemah pemahaman agamanya. “Terlepas dari itu, kondisi di rumah maupun di sekolah sangat menentukan sekali,” lanjutnya.

Dosen Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang sekaligus Kepala Satkorwil Banser Jawa Tengah, Hasyim Asy’ari yang hadir dalam kesempatan yang sama menuturkan, bahwa Islam yang dibawa dan diajarkan oleh para Wali Songo kini telah menjadi agama mayoritas di Indonesia. Dan cenderung mengarah ke Islam Nusantara yang sangat toleran terhadap kaum minoritas serta menghormati perbedaan.

“Semakin tinggi keilmuan seorang muslim, dia pasti semakin toleran karena dapat melihat persoalan dari berbagai perspektif,” paparnya.

Di sisi lain, Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Tedi Kholiludin mengungkapkan, kajian serta survei terhadap pelajar yang dia lakukan belum lama ini. Dari situ diketahui ada fenomena pelajar yang menunjukkan masih adanya gagasan toleransi, meski demikian ada fenomena kecil yang perlu diwaspadai.

Dari survei eLSA diketahui, konflik beragama di Jawa Tengah 70 persennya lebih disebabkan karena masalah interen. Fenomena tersebut, menurutnya, bisa menjadi masukan untuk pengambil kebijakan.

“Levelnya memang belum mengarah ke kebencian, tetapi akar-akar kebencian sudah ada. Maka dari itu, walaupun kecil harus kita waspadai dan diperhatikan,” cetusnya.

Diskusi yang dipandu oleh Kabid SMA/SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Taufikurrahman ini berjalan dinamis. Ratusan peserta baik guru maupun siswa, serta perwakilan pesantren terlihat hadir. Di akhir diskusi, peserta pun mendeklarasikan gerakan anti radikalisme agama dan menorehkan tanda tangan sebagai bentuk perang terhadap ISIS. [KS/002]