ISIS Dampak Ketidakadilan Global

1
1055
Dari kanan: KH Ahmad Kholil Nafis, Ph.D, KH Ubaidullah Shodaqoh, Khoirul Anwar, Dr Zainul Millal Bizawie, Dr Agus Maftuh Abegebriel, dalam Seminar dan Bedah Buku dengan tema “Menangkal Al-Qaeda dan ISIS Untuk Indonesia Damai” (27/3). [Foto: Munif]

Semarang, nujateng.com Akar permasalah terorisme sangat kompleks, tidak sebatas pada faktor tunggal. Namun paling dominan disebabkan oleh faktor ideologi yang dipicu oleh ketidakadilan global. Sedangkan faktor-faktor lain seperti kemiskinan, politik, sosial dan yang lainnya tak lebih dari sekadar ‘faktor penyempurnaan’ bagi kinerja ideologi radikalisme.

Demikian ditegaskan Sekretaris Program Studi Timur Tengah dan Islam Pascasarjana Universitas Indonesia, Dr KH Cholil Nafis, sewaktu mengakhiri diskusi buku ‘Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014)’ karya As’ad Said Ali di Auditorium II Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat sore (27/3).

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat ini, mengungkapkan, aspek penting memahami terorisme adalah dengan menyelami bagaimana para teroris membenarkan tindakan amoral mereka. Sebab, kata dia, untuk melakukan kebengisan seperti tindakan terorisme dibutuhkan dorongan kuat yang mampu meminimalisir dampak psikologisnya bagi sang pelaku. “Makanya tak heran, melalui proses kognisi itu para teroris tidak menganggap diri mereka sebagai teroris. Sebaliknya mereka memposisikan diri sebagai tentara yang memperjuangkan kebebasan, martir atau pejuang yang sah untuk tujuan-tujuan sosial dan agama,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, radikalisme yang memicu terorisme dipengaruhi oleh banyak faktor meskipun yang dominan adalah paham keagamaan. Namun, menurutnya, masalah ideologi juga dipicu oleh ketidakdilan global, termasuk invasi negara berkuasa kepada negara berkembang. “Karena itu, terorisme muncul sebagai respon terhadap situasi yang dialami oleh kelompok masyarakat yang mempunyai paham keagamaan takfir (suka mengkafirkan atau menyesatkan kelompok lain, red) yang dipicu oleh kezaliman global,” terangnya.

Meskipun demikian, dia mengakui bahwa Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS itu merupakan respon dari pemahaman keagamaan Islam yang dipicu oleh invasi negara berkuasa. Dia menerangkkan, dengan dalih apapun, termasuk ajaran Islam, tidak dapat dibenarkan menggunakan kekerasan guna menegakkan syariat Islam. “Padahal, Nabi Muhammad kan telah memberi contoh melalui Piagam Madinah. Piagam ini telah menjabarkan hubungan agama dengan Negara yang diimplementasikan dalam konstitusi yang disepakati masyarakat plural,” ujarnya.

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidullah Shodaqoh, menambahkan, orang yang bergabung dengan ISIS kebanyak ngajine rung tutuk. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Pedurungan Semarang ini, mereka belajar secara instan, al-Quran terjemahan, internet dan bukan dari ulama. “Makanya, para pencerah harus mewaspadai rayuan gerakan radikal. Apalagi sekarang perempuan sering menjadi sasaran untuk dicuci otak. Mari bersama-sama kita kuatkan komitmen terhadap NKRI dan Pancasila,” pungkasnya. [Munif/002]