Melawan Fanatisme dengan Kamus

0
1022

Oleh: Ferlita Husain

 

Judul: Kamus Pintar Agama Islam

Penulis: Syarif Yahya

Penerbit: Nuansa Cendekia

Tahun terbit: Cetakan III, 2014

Tebal: 296 halaman

ISBN: 978-602-7768-46-8

 

Umat Islam di Indonesia sedang dirundung problem pemikiran ke-Islaman. Fantatisme merajalela. Fundamentalisme, eskapisme, sektarianisme hingga sikap-sikap pengkafiran (takfiri) antar sesama orang Islam merebak. Salah satu akar masalahnya adalah kurang kuatnya fondasi keilmuan orang Islam. Ironisnya, antara kekuatan fondasi keilmuan tersebut tidak sebanding dengan semangat keagamaan yang meletup-letup.

Sebenarnya, fanatisme tidak akan muncul manakala transfer pengetahuan keagamaan berjalan sesuai dengan semangat keilmuan yang benar. Semangat keagamaan yang benar tidak hanya menuntut penganutnya memiliki karakter khas, tidak saklek, tetapi memilih jalur keterbukaan dalam pemikiran (open-mind).

Situasi di atas tentu saja menggelisahkan kita karena wajah Islam menjadi tidak humanis. Karena itu hadirnya “Kamus Pintar Agama Islam” karya Syarif Yahya merupakan oase yang menyejukan dan memberi harapan bagi pencerahan untuk umat Islam.

Penulisnya adalah seorang pengkaji Islam. Lahir dan berlatarbelakang pendidikan pesantren bertahun-tahun yang kini menjadi pengurus Nahdlatul Ulama Kab.Temanggung Jawa Tengah. Beliau mendapatkan mandat sebagai pengkaji masalah pemikiran Islam. Dengan tujuan untuk memberi penjelasan atas keilmuan Islam dalam bidang Tauhid, Syariah, Mualamah, Politik, Ekonomi, Sosial, Sastra, Perdadaban dll, Kamus Pintar Agama Islam ini mencoba menawarkan penulisan baru yang objektif dan akurat tanpa tendensi.

Di dalamnya terdapat sejumlah entri penting yang baik untuk mengantarkan pemahaman ke-Islaman secara luas karena berangkat dari tujuan untuk memberikan pemahaman secara proporsional. Dengan memahami masing-masing istilah tersebut tak jarang kita seringkali tertawa karena apa yang seringkali kita pahami dari istilah-istilah yang beredar di masyarakat ternyata tidak sesuai kaidah keilmuan Islam.

Nilai lebih kamus ini karena tidak menuntut pembaca menemukan pembenaran, tetapi ia membimbing pembaca mendekati kebenaran. Kebenaran akan ditemukan manakala pembaca juga tidak hanya merujuk kepada satu kamus saja, lebih dari itu ia harus menemukan kebenaran-kebenaran yang tersebar dalam banyak kamus yang lain.

Sebuah kamus memberi pelajaran kepada kita, betapa ilmu pengetahuan itu amat sangat luas dan menuntut pembaca menemukan kebenaran dan pemahaman di samudra tak bertepi pengetahuan. Tak heran, tradisi penyusunan dan penggunaan kamus di dunia Islam amat kuat. Sebuah tradisi yang kini nyaris lenyap dengan ditandai munculnya gerakan perdagangan agama yang melenyapkan sama sekali nalar dan obyektivitas pengetahuan dan pemahaman keagamaan dalam masyarakat.

Bagi pemula, orang yang belajar agama awal, dan bagi para pelajar, kamus ini menemukan momentum pentingnya, karena seseorang dalam meraih keilmuan tidak akan cukup hanya mengandalkan transfer pemahaman keagamaannya kepada seorang guru, di samping interaksi guru-murid sangat terbatas, pengetahuan seorang guru pada umumnya juga sangat terbatas.

Meskipun judulnya Kamus Pintar Agama Islam, bukan berarti pembaca langsung jadi pintar setelah membaca kamus ini. Pintar di sini konteksnya adalah, secara teknis kamus ini mempermudah pembaca mencari tahu istilah-istilah yang dibutuhkan pembaca. Jika seorang pelajar bertanya mengenai istilah “Syiah”, misalnya, ia dapat langsung menemukan lema itu dalam entri huruf “S”.

Penyusunan kamus dan anjuran penggunaanya dalam konteks ini tentu saja sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Tradisi penggunaan kamus adalah tradisi kaum cerdik cendekia yang mencari kebanaran, bukan tradisi kaum pengibar bendera pembenaran.