Dakwah NU, Dari Masa ke Masa

0
842
Rektor Unnes Semarang Prof Fathur Rokhman (kanan) didampingi Sekretaris PWNU Jateng Dr. KH Mohamad Arja Imroni, menyampaikan tausiyah dalam acara “Lailatul Ijtima’ dan Harlah NU Ke-89 (4/2) malam di kantor PWNU Jalan Dr Cipto Semarang 180. [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) bersama umat sudah berusia 89 tahun. Bukan usia yang sebentar NU mengawal dinamika keagamaan dan kenegaraan di Indonesia. Terekam dalam sejarah, NU mempunyai andil besar dalam merawat negeri ini sejak masa kolonial hingga masa reformasi.

Demikian tausiyah Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D dalam acara “Lailatul Ijtima’ dan Peringatan Harlah NU Ke-89 (4/2) malam kemarin. Dihadapan ratusan warga nahdliyin yang hadir di kantor PWNU Jalan Dr Cipto Semarang, Abu menyinggung peran NU dalam memajukan bangsa.

“Pada Ultah (ulang tahun-red) ke-89 tahun ini, NU sudah melewati masa kolonial, orde lama, orde baru, reformasi hingga masa sekarang. Alhamdulillah NU masih kokoh berdiri. Perjalanan NU dalam melakukan dakwah islamiah banyak mendapat apresiasi dari warga,” papar Abu.

Mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng ini bercerita, relasi NU dengan pemerintah semasa Soeharto. Seorang Soeharto pun, katanya, mengapresasi kerja-kerja NU dalam membentengi umat dari sisi ke-Islaman.

Abu menilai, meskipun hubungan personal NU dengan Soeharto tidak baik, namun tak merusak citra NU di hadapan pemerintah kala itu. Kala itu, tuturnya, Soeharto pada tahun 1994 tidak mengira akan ada orang yang berani mengkritiknya. Namun ternyata muncullah NU dengan Gus Dur-nya.

“Memang pada masa itu, hanya satu orang yang berani mengkritik (Soeharto-red), Bahkan sampe mengatakan bodoh. Nah, dalam perjalanannya Soeharto ternyata sadar bahwa ini adalah koreksi baginya dalam memimpin. Karena kritik keras yang dilancarkan Gus Dur, Soeharto sangat benci dengan Gus Dur,” tuturnya.

Diapresiasi Soeharto

Soeharto, lanjutnya, bahkan sampai mengancam tak akan datang ke Muktamar waktu di Cipasung, Jawa Barat. Ia mau datang jika tidak ada Gus Dur di depan. Karena Gus Dur tidak ada di barisan depan, maka akhirnya Soeharto datang.

“Saya masih sangat ingat waktu itu. Soeharto datang, duduk di barisan depan dengan didampingi Almarhum KH Sahal Mahfudz. Nah, sambutannya kala itu sangat mengejutkan. Inti sambutannya adalah peran terbesar NU kepada bangsa negara adalah letak pemahaman keagamaannya untuk stabilitas nasional,” terangnya.

Ia menilai isi sambutan itu merupakan pengakuan tulus dari Soeharto kepada NU. “Logikanya, sedang dalam keadaan benci saja, kepada Gus Dur-NU. Jadi kalau ada orang yang memuji teman, itu biasa. Namun ketika memuji musuh itu artinya sedang bicara objektif,” tandasnya.

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Fathur Rokhman yang hadir pada kesempatan itu menyampaikan pentingnya untuk berjamiyah. Menurutnya,  salah satu orang yang beruntung semasa di dunia itu adalah salah satunya orang yang mempunyai kumpulan.

“Orang beruntung itu ada tiga ciri, pertama memiliki keimanan, mempunyai harapan, dan terakhir adalah orang yang ada dalam kebersamaan. Dalam kebersamaan itu, orang akan bertambah segalanya. Dengan berkumpul akan bertambah pengetahuan, rizki yang tak diduga-duga. Karena itu, saya bahagia ada di dalamnya,” tuturnya. [Ceprudin/002]