Warga NU Tidak Bangkrut di Dunia dan Akhirat

0
942
KH. A'wani

Semarang, nujateng.com- Bangkrut atau tertimpa kerugian besar ada dua, yaitu bangkrut di dunia dan bangkrut di akhirat. Orang yang mengalami kebangkrutan di akhirat adalah orang yang di dunianya rajin shalat, puasa, dan ibadah lainnya, namun sering memukul orang atau memfitnah. Dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) tidak ada ajaran melakukan kekerasan, NU tidak mengajarkan memukul orang, memfitnah, atau menggunjing.

Penjelasan itu disampaikan oleh Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH A’wani Sya’roni dalam acara “Lailatul Ijtima’ NU Jawa Tengah” Rabu malam (7/1) di Aula PWNU Jawa Tengah Jalan Dr. Cipto 180 Semarang.

Lebih jauh pengasuh pondok pesantren Al-Musthofa Lodan Wetan Sarang Rembang itu memaparkan, bentuk kebangkrutan yang kedua adalah kebangkrutan di dunia, yakni mencari nafkah dengan cara seperti berdagang dan menghasilkan laba melimpah ruah, namun tidak pernah bersyukur. Orang yang seperti ini akan mengalami bangkrut dengan sirnanya harta benda yang dimiliki. Berbeda dengan orang NU yang dalam mencari kehidupan selalu bersyukur kepada Allah sehingga tidak akan mengalami kerugian di dunia.

“Bagi orang NU ketika berdagang harus bersyukur, dalilnya jelas, kalau syukur nanti ditambah. Syukur tidak hanya al-hamdulillah saja, tapi dikuatkan dengan beribadah,” tandasnya.

Menurut Kiai yang akrab disapa Mbah A’wani, warga NU dalam bekerja harus niat beribadah dan yakin bahwa rizki yang berupa harta benda, jabatan, dan yang lainnya semuanya dari Allah, bukan karena kehebatan diri seseorang. Sehingga untuk mensyukurinya pun harus dengan beribadah, yakni zakat, memberikan sebagian hartanya kepada yang membutuhkan.

Dalam sejarah sudah banyak contoh nasib akhir seseorang yang tidak mau bersyukur dan orang yang selalu bersyukur. Qorun adalah orang kaya raya pada zamannya, namun ia tidak pernah bersyukur kepada Allah, bahkan dirinya sombong dengan menyatakan bahwa harta benda yang dimilikinya semata-mata karena keahlian dan hasil kerja kerasnya sendiri. Di akhir hayatnya, Qorun tertimpa petaka dengan lenyapnya semua harta benda dan terpendam dengan tanah. “Ini orang yang tidak bersyukur,” tegasnya.

Sedangkan nabi Ibrahim adalah contoh orang yang selalu bersyukur kepada Allah, bahkan dalam menghadapi ujian yang sangat besar sekalipun, yakni perintah untuk menyembelih anaknya yang berwajah sangat tampan, Ismail, nabi Ibrahim tetap tabah dan bersyukur.

Sebab ketabahannya itu, nabi Ibrahim diangkat derajatnya oleh Allah. Dan sebagaimana dinyatakan al-Quran bahwa orang yang bersyukur akan selalu diberi tambahan oleh Allah, nabi Ibrahim juga diberi tambahan dengan banyaknya rizki dan keturunan-keturunan yang shalih menjadi nabi-nabi Allah. “Nabi Ibrahim tidak memandang Ismailnya (materi yang harus dikorbankan, red.), tapi siapa yang memerintahkannya, yakni Allah,” sambungnya. [AR/002]