Tertib Administrasi Untuk Majukan Organisasi

0
1072
Menyampaikan Materi: Sekretaris Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, KH Mohamad Arja Imroni menyampaikan materi tertib administrasi pada workshop “Desain Pengelolaan Media dan Tata Usaha NU Se-Jateng”, di Hotel Muria, Jumat (2/1/14). Foto: Ceprudin.

Semarang, nujateng.com– Sebelas tahun lagi, ormas Nahdlatul Ulama (NU) berusia satu abad. Perjalanan organisasi NU sudah sangat panjang, yakni sudah hampir 89 tahun. Usia itu, sudah sangat matang dibanding dengan ormas-ormas lainnya.

Selama perjalanan itu, pengurus NU banyak yang menempuh jenjang pendidikan hingga doktoral. Baik dari tingkat pusat maupun sampai pada tingkat ranting. Namun, refleksi yang harus ditelaah adalah persoalan administrasi.

Sekretaris Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, KH Mohamad Arja Imroni menyampaikan, diakui atau tidak tata kelola administrasi  NU belum tertata rapi. Keadaan tata kelola administrasi yang belum maksimal ini sepertinya banyak faktor.

“Salah satunya adalah mindsite ‘sing penting mlaku’ atau bahkan lebih parah lagi ada yang bilang ‘ono sing ngurusi wae wis untung’,” tuturnya, pada workshop “Desain Pengelolaan Media dan Tata Usaha NU Se-Jateng, di Hotel Muria, Jumat (2/1/14).

Pemahaman dalam mengelola organisasi “yang penting jalan” itu jangan sampai dilestarikan. Karena banyak anekdot-anekdot warga NU yang menjadikan tata kelola administrasi kurang baik.

Bentuk Tim

“Salah satunya anekdot yang mengatakan NU bisa panjang umurnya bukan karena manajemen administrasinya yang bagus melainkan karena doanya para wali dan para masyayikh termasuk para pendiri. Kalau tak didoakan para wali, nasibnya akan seperti organisasi yang lain, papan nama saja mungkin sudah tak ada,” seloroh kiai humoris ini.

Kyai Arja menambahkan, ada pula anekdot yang menyatakan NU administrasinya masih kacau, tapi sudah mendunia. Bisa go international. “Nah, sekarang paradigmanya kita rubah, administrasi kacau saja bisa mendunia, apalagi jika tertib administrasi. Mungkin bukan hanya mendunia, tapi bisa sampai akhirat,” selorohnya.

Ia berpesan supaya wajah organisasi tak seperti perempuan yang pandai bersolek. Baunya harum, parasnya lembut namun ternyata banyak panunya. “Karena itu penting kiranya untuk membentuk tim kesekretariatan yang betul-betul fokus. Ketika sudah terbentuk tim yang fokus maka dibuat pembagian kerja yang jelas. Jangan sampai menjadi wakil sekretaris tapi tak jelas kerjanya,” pesannya. [Ceprudin/002]