Pancasila Sudah Final, NKRI Harga Mati

1
1076
Memberikan Keterangan: Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hapsin, Ph.D memberikan keterangan pers kepada sejumlah awak media disela acara “Lailatul Ijtima’” di kantor PWNU Jateng Jalan Dr Cipto 180 Semarang, Rabu (7/1/14). (Foto: Ceprudin).

Semarang, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Abu Hapsin, Ph.D menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Ia juga menyatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara sudah final.

“Kenapa NU tak sepakat dengan adanya gerakan-gerakan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah, karena NU sudah menyatakan NKRI harga mati dan Pancasila sudah final,” tegasnya, disela acara “Lailatul Ijtima’” di kantor PWNU Jateng Jalan Dr. Cipto 180 Semarang, Rabu (7/1/14).

Pada acara itu, hadir Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Jateng, KH Ahmadi, Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng KH A’wani, Mantan Gubernur Jateng KH Ali Mufiz, Mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng HM Adnan, Anggota DPRD Jateng Muh Zen Adv dan Muhammad Ngainirichadl serta ratusan warga Nahdliyin.

Abu Hapsin menambahkan, kiai-kiai serta warga Nadliyin punya peran dalam mendirikan negara ini. Pendiri NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahid Hasyim menjadi pelopor untuk mendirikan negara Pancasila berdasarkan NKRI. Para ulama itu, katanya, sama sekali tidak menghendaki didirikannya negara Islam.

”Apa yang kita baca dalam literatur sejarah menunjukan komitmen para kiai NU untuk mempertahankan NKRI. Ingat NKRI bukan negara Islam. Ketika Kiai Hasyim Asy’ari mengkomandoi supaya umat Islam berjihad, yang diperintahkan bukan untuk mendirikan negara Islam. Tapi negara Pancasila dan NKRI,” Jelasnya.

Mantan Ketua Forum Kerukunan Umar Beragama (FKUB) Jateng ini sepakat dengan  para ulama NU yang menyatakan bahwa negara ini milik bersama. Bukan milik salah satu agama, kelompok, golongan bahkan etnis.

”Di negara ini kita dilahirkan, dibesarkan, bersujud dan beribadah. Oleh karena itu kita tak ada alasan untuk kemudian mencederai negara yang sudah kita dirikan sendiri. Sudah niscaya kita harus mempertahankan negara NKRI dan Pancasila ini,” tandasnya.

Berikan Masukan

Seperti santer diberitakan, akan ada tabligh akbar yang akan dihelat pada Ahad, 11 Januari 2015 di Masjid Madyo Mangun Karso, Jalan Wolter Monginsidi, Pedurungan, Semarang. Acara itu sedianya mengambil tema “Mereka Mujahid Bukan Khowarij (Pembelaan terhadap Khilafah yang terfitnah)”.

Informasi yang tersebar luas di masyarakat, kelompok yang akan menyelenggarakan acara ini diantaranya; Anshor Daulah Wilayah Jawa Tengah, Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) Mudiriyah Semarang, Forum Aktivis Islam Semarang, dan Komunitas Anti Haters.

Meskipun PWNU tak sepakat dengan adanya tabligh akbar dengan tema pembelaan terhadap khilafah islamiyah namun NU bersikap pasif. Abu menegaskan tidak akan pernah menurunkan warga NU untuk ada di lokasi tabligh tersebut. Soal itu, ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

“NU menyerahkan sepenuhnya kepada pihak pemerintah juga aparat kepolisian. Kami juga aktif memberikan masukan-masukan kepada pihak pemerintah dan aparat keamanan bagaimana soal perkembangan gerakan yang hendak mendirikan negara Islam di Indonesia.

Pihak PWNU sudah sejak lama memberikan masukan kepada pemerintah supaya paham-paham yang anti Pancasila dan anti NKRI serta paham radikal yang tidak sejalan dengan tradisi akar budaya diwaspadai.

“Kami memberikan masukan mengenai itu itu bukan hanya sekarang, karena ada kegiatan yang dilakukan oleh kelompok jihadis di Semarang. Tapi PWNU sudah sejak lama melakukan itu karena kami tidak setuju kalau seandainya ada kegiatan-kegiatan yang akan merongrong kedaulatan sah dari negara ini,” tandasnya. [Ceprudin/002]