Pancasila Rumah Bersama, Persatuan Dalam Keberagaman

0
960
Caption: Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Fadlolan Musyafa’, Lc., MA. (Foto: Ceprudin).

Semarang, nujateng.com- Gerakan dan propaganda “negara Islam” yang diusung kelompok yang menamakan dirinya dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau dalam bahasa Arab disebut ad-da’isy (ad-daulah al-islamiyah fi al-‘Iraq wa asy-syam) sangat bertentangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kendati demikian, ironisnya di negara yang di dalamnya terdapat banyak keberagaman agama, suku, dan budaya ini, ada sebagian warganya yang ikut serta dan menyetujui propaganda itu. Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi masyarakat (ormas) terbesar di negara ini sudah sejak dahulu menyatakan NKRI dan Pancasila sebagai bentuk negara yang final dan harga mati. Apa alasan yang mendasari pernyataan tersebut? Berikut wawancara redaktur nujateng.com, Ceprudin dengan Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Fadlolan Musyafa’, Lc., MA.

Kenapa Nahdlatul Ulama (NU) Memfatwakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati dan Pancasila sudah final, Kiai?

Sebelum saya jawab lebih jauh, terlebih dahulu harus menjelaskan sejarahnya. Jadi kala itu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu mempersiapkan kemerdekaan Negara Indonesia, dimana para penggagasnya “memfoto copy” dari BPUPKI-nya negara Madinah waktu itu.

Di mana Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah beliu tidak ingin membuat negara Islam. Karena negara itu terlebih dahulu sudah dihuni oleh orang-orang pemeluk agama-agama yang lain, selain Islam. Sehingga kemerdekaan Indonesia itu sekalipun panitia BPUPKI itu adalah mayoritas umat Islam tetapi tidak ingin membuat negara Islam.

Karena apa? Karena kalau membuat negara Islam itu nanti tidak menjadi sebuah negara persatuan. Jika bukan negara persatuan beberapa daerah akan lepas, misal Papua, Ambon akan lepas. Aceh mungkin juga lepas. Bali juga akan lepas karena di sana mayoritas umat Hindu, serta daerah-daerah lain yang mayoritas non-Muslim akan lepas.

Nah, di sinilah kenapa kearifan lokal dirawat, supaya Indonesia menjadi negara persatuan, karena itu para pendiri bangsa ini mendirikan negara persatuan dan kesatuan. Persatuan yang dimaksud adalah persatuan antara pulau-pulau, agama-agama, etnis-etnis, kepercayaan-kepercayaan, bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Ini hanya bisa disatukan dalam titik temu adalah Pancasila.

Selama ini banyak ormas Islam yang mengatakan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Lalu kenapa NU menganggap Pancasila sudah final?

Jadi, Pancasila itu bukan agama, Pancasila juga bukan Islam. Tapi yang harus dipahami adalah, tidak ada satupun butir-butir dalam Pancasila dari satu sampai lima yang bertentangan dengan Islam. Karena pada hakikatnya Pancasila itu disarikan dari agama. Sehingga Indonesia itu bukan negara Islam, bukan negara sekuler, tapi negara yang memiliki dasar sendiri yakni, republik atau negara persatuan.

Ini karena persatuan yang bisa mempertemukan berbagai unsur yang berbeda yang ada di Indonesia hanya Pancasila. Pancasila itu titik temu-titik temu dari semua perbedaan itu.

Kenapa kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati dan Pancasila itu sudah final. Ini adalah fatwanya NU ketika Muktamar tahun 1984 di Situbondo yang merumuskan di mana Pancasila menjadi asas tunggal dan tidak boleh ada asas-asas lain.

Semua keorganisasian yang ada di Indonesia harus berdasarkan Pancasila dan Pancasila menjadi asas tunggal. Coba kita telaah satu per satu butir-butir Pancasila dari satu sampai lima tak ada satu pun yang bertentangan dengan Islam.

Lalu konsep menurut NU bagaimana dengan Islam yang bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam? Bukankah Islam harus diamalkan dalam setiap kehidupan, termasuk bernegara?

Memang Islam tidak disebutkan secara eksplisit dalam Pancasila. Namun sejatinya dalam Pancasila sudah mengandung hakikat agama Islam itu sendiri. Sehingga tak harus dinyatakan bahwa Indonesia negara Islam, namun cukup secara maknawian yang terkandung dalam Pancasila.

Secara harfiyah atau secara lafdhiyah memang tidak ada frasa negara Islam, namun maknanya dalam Pancasila sudah Islami. Inilah letak bahwa ajaran Islam itu harus diletakkan dalam semua kehidupan, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Ini pentingnya di situ.

Berbeda dengan kelompok yang formalis, semuanya Islami. Ingin membuat konstitusi berdasarkan Islam dengan jelas dituangkan dalam asas negara. Ingin formalitas atau menghendaki diharfiahkan. Sehingga Islam itu menjadi sebuah ideologi.

Padahal Islam itu adalah payung besar yang semuanya bisa bernaung di bawah payung itu. Semua agama, kepercayaan, etnis, dan budaya bisa bernaung di bawah payung besar itu. Agama lain, bisa diayomi oleh payung besar Islam etnis apa saja bisa diayomi dengan wadah perdamaian di bawah hakikat Islam yang tertuang dalam Pancasila.

Itu karena Islam rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Alam semesta itu bukan sebatas manusia melainkan laut, daratan dan ngkasa. Islam harus melindungi dan Islam menjadi rahmat bagi semua itu.

Maka perusakan Islam itu melanggar syariat Islam, merusak lain atau membajak ikan itu melanggar prinsip Islam. Ada orang saling bunuh membunuh itu melanggar syariat Islam juga. Islam mengajarkan kasih sayang yang tulus sesama manusia itu. Dan ini juga diajarkan oleh agama-agama lain.

Nah, jika Islam diinginkan menjadi sebuah ideologi negara, itu artinya sudah mengecilkan Islam. Artinya Islam telah ditarik ke dalam kamar. Contohnya apa, partai Islam, bank syariah, kolam renang Islami, pijet atau SPA Islami, pegadaian Islami. Yang Islami-Islami itulah. Jadi Islam itu menjadi sangat kecil dengan menjadi mengelompok.

Ini kan menjadi masalah lagi karena Islam ditarik menjadi sebuah kelompok sehingga menjadi sebuah ideologi kelompok, sehingga menjadi kecil. Padahal Islam itu sangat besar.

Selama ini, kelompok formalis selalu mendengungkan supaya dasar negara Indonesia menjadi khilafah Islamiyah, seperti yang ada di Timur Tengah. Lalu bagaimana menurut kiai?

Bayangkan saja, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah tidak semena-mena berperan menjadi seorang Nabi dengan menghendaki Madinah menjadi negara Islam. Apakah pernah saudara mendengar atau membaca ada literatur yang mengatakan Madinah adalah negara Islam? tidak ada.

Negara Madinah itu adalah negara persatuan. Persatuan al-ukhuwwah baina al-authan, al-ukhuwwah baina al-adyan, al-ukhuwwah baina al-mu’minin, al-ukhuwwah Bain al-muslimin. Persatuan semua yang dibangun di Madinah itu.

Persatuan di antara orang beriman, persatuan di antara orang Islam, persatuan di antara etnis atau suku atau kabilah-kabilah. Persatuan-persatuan inilah yang membentuk negara persatuan dalam perbedaan. Kalau Madinah ini memang pemerintahan diatur berdasarkan Islam, tetapi bentuk negaranya berbeda.

Bentuk negara dengan sistem pemerintahan kan berbeda. Negara Indonesia ini adalah negara Republik kemudian pemerintahannya adalah diatur dengan sistem presidensial. Inilah yang menjadi dasar bahwa Pancasila sudah final dan NKRI harga mati. Kita tak bisa lepas dari para pendiri bangsa ini. [Ceprudin/002]