Masjid Tempat Strategis Rekrutmen Kader Jihadis

0
827
Ceramah: Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah yang juga mantan Gubernur Jateng KH Ali Mufiz memberikan ceramah dalam acara “Lailatul Ijtima’ NU Jateng” Rabu, (7/1/14) di kantor PWNU Jateng Jalan Dr Cipto 180 Semarang. (Foto: Ceprudin).

Semarang, nujateng.com- Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ali Mufiz menyatakan, di Timur Tengah masjid menjadi sarana kaderisasi kelompok jihadis. Kelompok ini menjadikan masjid sebagai tempat strategis untuk pembaiatan atau rekrutmen kader baru.

“Berdasarkan pengalaman saya di Timur Tengah, mereka melakukan rekrutmen anggotanya dan melakukan penggalangan dana di masjid. Mereka sangat sabar untuk menguasai masjid,” tuturnya, dalam acara “Lailatul Ijtima’ NU Jateng” Rabu, (7/1/14) di kantor PWNU Jateng Jalan Dr Cipto 180 Semarang.

Pada acara itu, hadir Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Jateng, KH Ahmadi, Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng KH A’wani, Mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng HM Adnan, Anggota DPRD Jateng Muh Zen Adv dan Muhammad Ngainirichadl serta ratusan warga Nahdliyin.

Mantan Gubernur Jateng ini menduga gerakan semacam ini tak menutup kemungkinan juga terjadi di Indonesia. Hematnya gerakan jihadis modusnya tak jauh beda dengan apa yang dilakukan di Timur Tengah. Dugaan ini berdasarkan pengalamannya selama menjadi ketua badan pengelola masjid.

Ia selama menjadi Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah bercerita mengenai upaya salah satu kelompok untuk menjadi takmir masjid tersebut. Kelompok-kelompok tersebut sangat sabar dalam berusaha menguasai masjid. Tentunya dengan berbagai upaya.

Pendekatan

Menurutnya, modus awal yang dilakukan adalah berjamaah rutin beberapa kali hingga kenal dengan takmir masjid yang menjadi target. Setelah itu kemudian melakukan pendekatan dengan menawarkan jasa-jasa tenaga untuk turut mengurus masjid itu.

“Kemudian setelah kenal dengan takmirnya mereka menawarkan jasa untuk membantu pekerjaan takmir. Ya seperti nyapu, bersihkan kamar mandi dan WC dan sejenisnya. Awalnya mereka hanya membantu, namun lama-lama bisa juga menguasai,” ceritanya.

Setelah berhasil menguasai, lanjutnya, lama-lama mereka menguasai sepenuhnya semua program yang ada di masjid itu. Setelah menguasi program mereka bebas menggunakan masjid itu untuk melakukan perekrutan kader, baiat pemimpin baru, serta melakukan penggalangan dana.

“Karena itu kita semua harus hati-hati dengan tawaran jasa untuk membantu mengelola masjid. Tentunya kita harus terbuka kepada siapa pun yang hendak menggunakan masjid. Jika kegiatannya tidak bertentangan dengan dasar negara dan paham ahl Sunnah wal Jamah kita harus membuka lebar pintu masjid,” tandasnya. [Ceprudin/002]