Kenali Tempat Rawan Bencana

0
583
Pelatihan Tanggap Bencana: Praktisi relawan bencana dari Palang Merah Indonesia (PMI) Jateng, Danang Baskoro Adhi memberikan materi pada “Pelatihan Tanggap Bencana; PW GP Anshor Jateng” di kantor PWNU Jateng Jl. Dr. Cipto Semarang, Sabtu (3/1). Foto: Ceprudin.

Semarang, nujateng.com– Menjadi relawan tanggap bencana, perlu kehati-hatian tinggi. Tak jarang, seorang relawan justru terjebak ketika sedang melakukan evakuasi di tengah lokasi bencana. Demikian terjadi karena relawan tak peka dengan daerah rawan.

“Ketika kita di lapangan, sedang menjadi relawan harus sangat hati-hati. Terlebih dalam masalah bencana banjir dan losngosr,” kata praktisi pertolongan pertama dari Palang Merah Indonesia (PMI) Jateng, Danang Baskoro Adhi pada “Pelatihan Tanggap Bencana; PWNU Jawa Tengah” di kantor PWNU Jateng Jl. Dr. Cipto Semarang, Sabtu (3/1).

Menurutnya, seorang relawan harus tak boleh panik dengan keadaan. Sedarurat apapun keadaan bencana, relawan harus tetap tenang. Menjadi tim penolong harus siap menghadapi berbagai situasi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan ketika belum ke lapangan.

”Bencana itu datang kapan saja. Maka ketika kita di lapangan harus memastikan tempat yang digunakan posko relawan aman. Jangan sampai kita menaruh kendaraan atau mendirikan posko di daerah yang masuk daerah rawan. Misalnya rawan dengan longsor susulan,” tambahnya.

Pahami Korban

Menurutnya, tak jarang terjadi ketika sedang melakukan evakuasi korban kemudian longsor susulan terjadi. “Kondisi demikian berbahaya jika kita berada pada titik rawan longsor. Jangan sampai relawan kemudian menjadi korban longsor sendiri,” paparnya.

Selain soal mengenali daerah bencana, menjadi relawan penting juga memahami kondisi korban. Posisi penolong harus betul-betul memastikan korban dalam keadaan seperti apa. “Apakah mereka luka-luka parah, pingsan, atau bahkan meninggal. Ini penting supaya tak terjadi salah antisipasi,” paparnya.

Dalam menggunakan obat-obatan juga harus berhati-hati. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan harus mempertimbangkan korban. Terutama dalam menggunakan obat-obatan gosok yang baunya menyengat.

“Misalnya dalam mengguanakan balsem, kayu putih atau obat-obatan sejenis obat gosok. Ini harus hati-hati karena terkadang orang tak suka bau-bau yang menyengat. Intinya dalam pertolongan adalah kehati-hatian dan cepat tanggap,” paparnya. [Ceprudin/002]