Habib Luthfi: Rasulullah Sangat Nasionalis

0
1496
Habib Luthfi saat memberikan taushiyah. [Foto: Gpenk]

Pekalongan, nujateng.com- Rais Amm, Jam’iyyah ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman), Habib Luthfi bin Ali bin Yahya memberikan Tausiyah dalam Silaturahim Mursyid Thariqah se-Indonesia bersama TNI-Polri, di Pekalongan, Jawa tengah, Sabtu (24/1).

Dalam silaturahim yang mengambil tema “Kebersamaan TNI, Polri dan Ulama, Untuk Memperkuat Nilai-Nilai Sejarah UUD ’45 dan Pancasila, Dalam Membentengi NKRI dari Pengaruh Kelompok Radikal dan ISIS, Serta Upaya Menuju Negara Poros Maritim” tersebut, Habib Luthfi menyatakan bahwa apabila Ulama dan TNI-Polri bersatu, Indonesia akan menjadi negara yang kuat.

“Apabila Ulama, TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecahbelah. Persatuan kita sangat penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini” terang Habib.

Habib melihat, membangun Bangsa Indonesia, tidaklah mudah. “Membangun negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat Nabiyullah Muhammad Saw diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada, setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses.

Habib menceritakan, Rasulullah Saw sangat nasionalis dan selalu menanamkan rasa nasionalisme kepada para sahabatnya. “Rasul Saw sangat mencintai Bumi Arab. Beliau sering menyatakan diri; Saya adalah Bangsa Arab. Nah, untuk itu, kita Bangsa Indonesia, harus bangga dan lantang menyatakan; Saya Orang Indonesia, apa pun suku kita, baik Jawa, Sunda, Arab, India, China atau mana pun, jika kita terlahir di negeri ini, teriakkan dengan lantang; Saya Orang Indonesia,” ajak Habib.

Habib melihat, dalam era global ini, silaturahim antaranak bangsa sangat dianjurkan, karena mampu lebih mengakrabkan dan membersatukan. “Ulama, TNI dan Polri adalah orang tua kita semua. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak, maka akan mengurangi kewibawaan ulama, TNI dan Polri sendiri.”

Habib prihatin dengan kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menimpa Indonesia.

“ Saat ini, Indonesia dengan mudah diobok-obok. Wibawa kita sebagai bangsa besar dipertaruhkan. Meski demikian, sekali lagi, selagi Ulama, TNI-Polri bersatu, kewibawaan Indonesia akan kembali lagi. Tidak perlu diperdebatkan, apa lagi kita membahas hal-hal lain” terang Habib.

Habib melihat, tugas setiap warga negara adalah mengisi kemerdekaan ini untuk hidup yang lebih baik, namun hingga kini, banyak dari anak bangsa, masih mempeributkan hal-hal sepele.

“Kita harus berubah, ketika negara lain sudah maju, kita masih memperdebatkan tahlil, maulidan, penentuan tanggal satu ramadhan, syawal dan lain sebagainya. Bagaimana kita bisa maju? Negara luar, ada yang mempunyai nuklir, membuat pesawat tempur, bom, kapal perang, pesawat reguler dan lain sebagainya. Apa yang telah dilakukan negeri ini? Kedua, di bidang kedokteran, alat-alat bedah dan lain sebagainya, negara luar yang memproduksi. Apa negara kita tidak mampu mendirikan universitas tingkat internasional yang mampu mengangkat dunia Islam? Lihat juga pertanian kita yang amburadul. Padalah kita mempunyai tanah yang sangar luas dan subur,” urai Habib.

Habib melihat, banyak hal di negeri ini yang bisa dimanfaatkan untuk menegaskan kebesaran NKRI.

“Negeri ini mempunyai posisi yang sangat strategis. Kita mempunyai jangkauan ke seluruh penjuru dunia. Andai letak itu kita manfaatkan dengan baik dan benar, sisi lain, kita kuat, kita akan menjadi negara yang besar, berwibawa dan makmur. Negara tetangga pun akan berfikir panjang untuk macam-macam terhadap kita” tambah Habib.

Habib juga mengajak rakyat Indonesia untuk meniru air laut.

“Air laut mempunyai jati diri dan nasionalisme yang luar biasa. Meski selalu mendapatkan air tawar dari daratan dan hutan, meski mendapatkan bermacam-macam limbah, namun air laut tetap berasa asin. Apa pun yang mengotori laut, tidak mampu menghilangkan rasa asin air laut. Meski demikian, penghuni laut, tidak pernah mengintervensi ikan air tawar. Mereka mampu memposisikan diri dengan sangat luar biasa” tegas Habib.

Pangdam salut

Sebelumnya, Pangdam IV Diponegoro yang membacakan pidato Panglima TNI, karena mendadak dipanggil Presiden untuk mengurusi pengangkatan Airasia, salut dengan silaturahim ini.

Secara pribadi, saya salut dengan para Ulama, saya sangat bangga karena ada penyanyian Indonesia Raya dan Pembacaan Pancasila. Sesuatu yang menurut saya sangat luar biasa. Akan saya sampaikan kepada Panglima TNI peristiwa luar biasa ini” reaksi Pangdam.

Dalam kesempatan ini, Panglima TNI, melalui Pangdam IV Diponegoro mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas undangan silaturahim ini. Panglima melihat, silaturahim ini mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah.

“Indonesia sangat beragam dan plural. Kebhinnekaan, merupakan anugerah Allah SWT. Meski demikian, kita mempunyai kesamaan pandangan dan persepsi, bagaimana cara memecahkan masalah di negeri ini.” Terang Panglima.

Panglima menyatakan, bahwa semangat Proklamasi haarus dipertahankan.

“Pancasila dan UUD, mampu merajut persatuan untuk masa depan yang lebih baik dan adil. Karenanya, NKRI adalah final. Pemahaman kita atas Pancasila akan menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup dan keutuhan NKRI. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran kita, baik sebagai warga negara, maupun sebagai penyelenggara negara. Negara wajib dan bertanggungjawab untuk mewujudkan cita-cita nasional dan manivestasi cita-cita leluhur.” Urai Panglima.

Panglima Moeldoko melihat, untuk mewujudkan cita-cita di atas, tantangan yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini sangat berat.

“Banyak sekali tantangan dan ujian yang akan kita tempuh. Apalagi, di era globalisasi seperti ini, dimana, negara-negara maju memegang peranan penting dan dominan. Untuk itu, Setiap orang  ditutut untuk loyal terhadap negara. Negara dan warga negara harus saling melengkapi.  Di sini ada hak dan kewajiban. Negara wajib memberi kesejahteraan hidup dan keamanan lahir dan batin warganya, untuk itu, negara harus menjamin hak-hak dasar waga negara sebagai manusia, yang secara legal formal, tercantum dalam pembukaan UUD ‘45” tukas Moeldoko.

“Sebaliknya, tambah Panglima, negara berhak atas perhatian warganya, di mana,setiap warga negara, berhak dan wajib mempertahankan dan membela negara. Masa depan negara, tergantung peran warganya” tambah Panglima TNI.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran TNI-Polri Jateng, DIY dan Jabar, Muspida kota Pekalongan, Kakanwil Kemenag Jateng dan Kemenag Pekalongan Kota.

Selain dihadiri ribuan mursyid dari 43 aliran Thariqah yang tergabung dalam Jatman seluruh Indonesia, Silaturahim ini juga dihadiri juga beberapa syufi dari Syiria, Zaman, Turki dan lain sebagainya. [Gpenk/001]