Gerakan Potensi Ekonomi Desa

0
846
Memegang Buah Unggulan: Ketua PWNU Jateng Abu Hapsin, Ph.D (tiga dari kanan) foto bersama dengan Ketua LP NU Kabupaten Semarang Drs Muslich, Direktur Jati Kencana Beton Dahwan, Wakil Ketua PCNU Muhrisun dengan memegang buah unggulan Minggu (25/1/15). [Foto: Ceprudin]

Ungaran, nujateng.com– Jangkar kemakmuran negara adalah kebangkitan ekonomi. Perekonomian harus merata antara desa dan kota. Karena itu ekonomi yang kuat harus dibangun mulai dari pinggiran desa. Dengan demikian tak ada ketimpangan kesejahteraan antara desa dan kota.

Inilah yang sedang digagas Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abu Hapsin, Ph.D. Melalui Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang dan Ranting NU se-Jateng ia bermaksud menggerakan semua potensi ekonomi yang ada di pedesaan.

Gagasan ini muncul saat alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini mengunjungi ”Ekspo NU Kabupaten Semarang” Minggu (25/1/15). Usai menghadiri peresmian Kantor Koperasi Pondok Pesantren Al-Hidayaah, ia menyempatkan untuk berkunjung ke stand pameran karya kader-kader NU kabupaten yang beribukota di Ungaran ini.

“Tantangan kedepan adalah ideologi yang dibungkus dengan ekonomi. NU harus bisa mengimbangi tantangan ekonomi global. Kita bangun ekonomi mulai dari pesantren yang berbasis di pedesaan,” kata mantan ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng ini.

Pameran karya kader NU sendiri digelar di Kecamatan Karangjati Kabupaten Semarang. Selama tiga hari, produk-produk karya MWC, Lajnah, Banom dan Sekolah berbasis NU dipamerkan. Banyak karya unggulan yang sejatinya sipa bersaing dengan pasar Global.

”Ada kaligrafi, ada kopi luwak murni, ada hasil pertanian unggulan seperti buah-buahan. Banyak karya kader-kader NU yang ternyata banyak diminati masyarakat. Hanya saja memang baru diketahui di pameran ini,” papar Ketua LPNU Kabupaten Semarang Drs Muslich yang juga panitia pameran.

Memasuki lokasi pameran, Abu Hapsin merasa terkagum-kagum dengan karya-karya kader NU. Ia melihat semua stand secara rinci dan satu per satu produk yang dihasilkan. Sampai di stand MWC NU Jambu, ia berhenti lama karena tertarik dengan kopi luwak murni yang dipamerkan.

Kopi Luwak Asli

Sembari berdialog dengan penjaga stand ia dibuatkan secangkir kopi hangat. Penjaga kopi mengutarakan bahwa kopi ramuan mereka sudah di ekspor ke luar negeri, termasuk korea. Di Korea ternyata kopi karya kader NU itu laris manis, bahkan permintaan terus meningkat.

”Saya percaya kalau luar negeri tertarik dengan kopi ini. Saya juga penikmat kopi, jadi tahu persis rasanya yang nikmat dan tidak. Dan rasanya ini memang mantap, kenal. Dibanding dengan kopi-kopi yang sudah terkenal mereknya, ini lebih unggul. Hanya saja memang harus dipikirkan pemasarannya,” ujar Abu.

Kebetulan, stand kopi luwak murni ini berdekatan dengan stand pameran kaligrafi. Kaligrafi ini dibuat oleh salah satu keder NU Kabupten Semarang yang ditingkat lokal lumayan banyak diminati. Abu Hapsin juga sempat terkagum dengan lukisan tokoh-tokoh NU seperti Gus Dur dan KH Hasyim Asyari’.

Di stand inilah Abu Hapsin bersama Pengurus LPNU Kabupaten Semarang Dahwan, yang juga Direktur Jati Kencana Beton, Wakil Ketua PCNU Muhrisun serta Ketua LPNU Kabupaten Semarang Drs Muslich konsolidasi kecil-kecilan. Ia mengajak semua pegiat ekonomi itu untuk membangun jaringan pemasaran secara nasional.

Dalam koordinasi itu, ia hendak mengundang semua LPPNU se-Jateng untuk berkumpul di PWNU Jateng. Tujuannya adalah untuk menginventarisir produk-produk kader NU dan kemudian diberi merk NU.

”Pangsa pasar kita jelas, jika kopi, semua warga Nahdliyin saya kira mengkonsumi kopi. Kaligrafi pun demikian. Pangsa pasarnya jelas yakni masjid-masjid dan juga pesantren-pesantren NU. Jadi dengan adanya label NU dalam produk itu akan semakin menarik pembeli,” paparnya.

Usai konsolidasi beberapa menit, Abu kemudian melanjutkan melihat stand pameran. Ia juga kagum dengan stand dinas kehutanan dan pertanian. Di stand ini ia sempat menanyakan berbagai buah-buahan yang dipamerkan karena kualitasnya yang menjanjikan. [Ceprudin/001]