Tentang Hukuman Mati Kasus Narkoba, Presiden Silaturahim ke NU dan Muhammadiyah

0
835

Jakarta, nujateng.com- Maraknya kasus narkoba di tanah air, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di dunia, membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) gerah. Mantan gubernur DKI Jakarta ini Bersilaturahim ke NU dan Muhammadiyah untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.

Didampingi Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin, Presiden Jokowi bersilaturahim ke kantor PBNU, Jalan Kramat, Jakarta Pusat pada Rabu(24/12) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB.

Dalam “keterangan pers singkatnya”, didampingi Ketua Umum Tanfidz PBNU, KH Said Aqil Siradj (Kang Said), Presiden Jokowi menyatakan telah berdiskusi dan meminta pandangan PBNU terkait hal di atas.

“Kami, meminta pandangan PBNU, berkaitan dengan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Karena, setiap hari, ada 40-50 generasi Indonesia meninggal dunia karena narkoba. Selain itu, kami juga berdiskusi tentang terorisme, radikalisme dan ekstrimisme yang akhir-akhir ini meningkat” terang Presiden.

Ditanya tentang hasil sharing tersebut, Kang Said menjawab, bahwa PB NU mendukung hukuman mati kepada pengedar narkoba.

“PBNU berada di belakang Bapak Presiden, mendukung hukuman mati kepada para pengedar dan produsen narkoba, bukan pemakai. Dasarnya jelas, dalam al-Qur’an disebut; Innama Jazaaulladzina Yuadzibuunallooha Warrosuulahu Waisqoona Fil Ardhi Fasaada, Auyoqottalu; Orang yang berbuat rusak dimuka bumi, harus dibunuh, atau dipotong kedua tangan dan dua kaki, atau disalib atau dibuang ke laut. Hal ini juga sesuai dengan UUD kita, Pasal 28 Ayat 2. NU di belakang presiden dan mendukung penolakan grasi kepada para pengedar narkoba” terang Kang Said.

Mengenai kelompok radikalisme, Kang Said menyatakan bahwa NU beraliran Ahlussunah dan menolak radikalisme.

“NU anti radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Apalagi ISIS, karena ISIS bukan (sebuah) perjuangan, namun (hanya) petualangan. Kita harus menjaga rakyat kita dari bahaya ISIS, agar rakyat tidak simpati padanya, meski saat ini ada sebagian rakyat telah bergabung dengan ISIS” urai Kang Said.

Kemudian, Presiden Jokowi meneruskan silaturahim ke Kantor Muhammadiyah di Mentang, Jakarta Pusat.

Dalam doorstopnya, Presiden, didampingi Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Malik Fajar, menyatakah hal sama kepada pers, bahwa kedatangan mantan Walikota Solo ini bersilaturahim, berdiskusi dan meminta pandangan Muhammadiyah mengenai hukuman mati bagi pengedar narkoba, dan terorisme, radikalisme serta ekstrimisme.

“NU dan Muhammadiyah mempunyai pandangan yang sama tentang hukuman mati bagi pengedar narkoba, terorisme, radikalisme serta ekstrimisme. Kami memerlukan pandangan dan masukan para kiai. Ke depan, ketegasan memang harus lebih diperkuat lagi, sehingga, negara benar-benar mempunyai kewibawaan yang baik” terang Presiden.

Mewakili Muhammadiyah, Malik Fajar mengatakan bahwa Muhammadiyah, dengan berbagai pertimbangan, mendukung hukuman mati bagi para pengedar narkoba.

“Kami telah mendiskusikan hal ini secara panjang lebar. Ini bukan lagi cerita, namun sebuah fakta. Ini menyangkut peradaban kita, tentang generasi kita. Dan, melalui banyak pertimbangan, Muhammadiyah mendukung hukuman mati tersebut” terang mantan Menag ini serius.

Tentang radikalisme, ekstrimisme dan terorisme, mantan Mendiknas menyadari bahwa pasca reformasi, akan muncul berbagai macam faham dalam agama-agama di Indonesia, tidak hanya dari Islam, namun juga dari agama lainnya.

“Untuk itu, peran Kementerian Agama sangat besar dalam menangkal radikalisme, ekstrimisme dan terorisme satu sisi, sisi lain adalah mengawal implementasi Pasal 29 UUD kita. Jaman Bung Karno dulu, kebetulan, saya menjadi salah satu panitia lokalnya, Indonesia telah melakukan hal luar biasa, yakni menyelenggarakan Kongres Islam Asia-Afrika. Di mana saat itu ada semacam penyatuan dan penyamaan persepsi tentang keragaman dalam Islam. Dan alhamdulilah sukses” kenang mantan Mendiknas tersebut. [Gepeng/001]