Pesantren Sebagai Miniatur NU

1
785

Oleh: KH. Ubaidullah Shodaqoh 

Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah

 

“ Kullu Syai’in Yabdu Shoghiron Tsumma Kabiron Illa al-Masyaqqoh.” Setiap sesuatu tampak bermula kecil kemudian membesar, kecuali kesulitan. Entah ini siapa yang mengatakan, tapi saya tidak pernah mempedulikan siapapun yang mengatakannya. Yang jelas, kata-kata itu sudah sudah saya ucapkan sejak usia belasan tahun. Ini berbeda dengan dengan kalimat “al-Bidayatu Tadullu Ala al-Nihayah” yang artinya Permulaan sesuatu menunjukkan pungkasannya. Kalimat tersebut dimengerti baik makna maupun sumbernya bagi salikin, terutama berfaedah menata niat dalam permulaan suluknya.

Bagi kalangan NGO (Non Government Organization) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau lembaga-lembaga kecil sebagaimana pondok pesantren, sudah tidak ayal lagi membangun suatu ide dari hal-hal yang kecil. Jarang sekali pondok salaf (kuno) memiliki bangunan yang tertata rapi, unit bangunan per bangunan. Lihat saja beberapa pondok pesantren terkenal semisal Lirboyo, Sarang, Mranggen atau Kaliwungu. Betapa acak-acakan bangunan-bangunannya, meskipun menempati lokasi yang luas. Karena dalam konteks hal-hal yang dlohir, wadag, tidak mendapatkan prioritas utama bagi para pengasuhnya. Beliau pendirinya lebih memfokuskan pada Nidlom al-Akhlaq , dan tarbiyah-tarbiyahnya. Oleh karena itu pengasuh para mendiang –rokhimahumulloh– pasti memiliki otoritas yang tinggi dalam hal budi pekerti dan keilmuan. Mereka tidak pernah merencanakan apalagi tentang bangunan pondok atau managemennya, tapi mutlak memilih apa yang dipilihkan oleh Allah Swt. Sebagaimana Sayyid Husain ketika membantah Abi Dzarrin yang senang kaya dari fakir dan sehat dari sakit ;

 

أما أنا فأقول: من اتكل على حسن اختيار الله تعالى له لم يتمنَّ غيرَ ما اختاره الله عز وجل له

“ Barang siapa yang perpegang teguh pada pilihan Allah maka sama sekali tidak akan mengharapkan kecuali apa yang dipilihkan oleh Allah “

Masya Allah! Beliau-beliau ini sebagaimana Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari), Mbah Wahab (KH. Wahab Chasbullah), mbah Bisyri (KH. Bisyri Syansuri), mBah Manaf (KH. Manaf Abdul Karim), mbah Muslih (KH. Muslich Abdurrahman), mbah Hadi (KH. Abdul Hadi), mbah Ru’yat (KH. Ahmad Rukyat Kaliwungu) dan Ahlullah yang lain tidak peduli dengan hal-hal yang formal, gelar keilmuan dari Doktor atau Profesor, bangunan beratap ijuk atau apapun. Mereka berbicara dengan bahasa ilmu, hati dan perasaan umat. Yang utama bagi mereka adalah desain dan wujud bangunan spiritual yang memancar pada seluruh kepribadian , ahwal dan kewibawaan mereka. “Kaannahum Usuudun” kata Syaikh Ibnu Athoillah. Karena itu mereka ditakuti dan dicintai oleh umatnya. Merekalah yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), merekalah yang memiliki NU, merekalah yang mengurus NU. Pesantrennya adalah miniatur jam’iyyahnya.

Hubungan mereka dengan kekuasaan dibingkai dalam “bithonah al-khoir” (partner baik) dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Bukan karena kehendak penghormatan apalagi material. Kekuasaan dan penguasa sama sekali tidak dapat mempengaruhi independensinya dan keistiqomahan dalam membimbing umat. Satu teladan datang dari mbah Ru’yat. Ketika seorang gubernur sowan ke ndalemnya, beliau hanya bertanya “ Panjenengan sinten?”. Sang tamu menjawab “Saya Soekardji Mangoen Koesoemo, Gubernur Jawa Tengah Kyai.” Beliaupun menimpali “ Ngosek ya, aku arep ngaji ndisek (sebentar ya, saya mau mengaji dulu).” Bagi orang seperti Mbah Ru’yat, bahkan gubernurpun tidak dapat mengganggu rutinitas membimbing para santri calon-calon ulama.

Kasih sayang mereka kepada umat tiada tara. Adalah Kiai Abdulloh al-Rasyid yang hidup diantara masyarakat yang miskin. Beliau adalah petani yang menggarap sawah. Ketika beliau mengirim pekerja di sawah, beliau memanggul sendiri “tempelangan” nasi empat kali lipat jumlah pekerja. Tiga perempat dibagikan masyarakat miskinnya. Bahkan mesti harus berbohong pada istrinya. “Nok, besok ada 20 orang yang nyangkul sawah yang harus dikirim,” begitu pintanya kepada sang isteri. Padahal disana tidak ada orang bekerja, dan tempelangan nasi itupun dipanggulnya sendiri untuk dibagikan masyarakat yang kesulitan makan. Subhanalloh! Saya mengalami sendiri peristiwa seperti ini. Meskipun ayah saya berada di tengah masyarakat sekitar, saya adalah orang yang paling terakhir memakai sepatu di sekolahan saya. Kata ayah, “Kasihan temanmu yang belum bisa beli sepatu”. Ketika teman-teman sudah pakai sepatu semua, saya baru dibelikan.

Saya yakin, jamiyyah NU pada saat itu berjalan bukan karena sistem yang ada pada organisasi, atau job description yang rapi, tapi karena pola hubungan Kyai-murid yang berdasarkan ketaatan. Jamaah merasa terhormat apabila di tugasi oleh Kyainya. Apalagi bersama-sama diajak bangkit dan bergerak. Ketaatannya tanpa reserve, karena itulah NU eksis.

Lambat laun, seiring perkembangan zaman, pesantren mengalami perubahan paradigma, dari tafaqquh fiddin belaka menuju ke spesifikasi beberapa keahlian dan keterampilan. Pola hubungan antara pengasuh dan santri lebih ditekankan kepada ilmu teoritis dan murid-guru sebagaimana sekolah formal. Hubungan nilai sakral dan batiniyyah menjadi pudar. Barangkali ada beberapa murid yang tidak mengenal kyainya/pengasuhnya. Pesantren dikelola dengan manajemen modern, akuntabel, transparan. Pokoknya yang serba formal. Kyai bukan lagi figur sentral dan panutan yang disegani, tapi lebih mirip dengan manager sebuah perusahaan. Gedung-gedung dibangun dengan fasilitas yang memanjakan. Tak ada lagi “ro’an”. Semuanya diukur dengan waktu dan material. Pendidikan menjadi instan dan dianggap investasi jangka pendek, bukan menitikberatkan kesejahteraan ukhrawi. Tentunya dengan berbagai dalil yang lengkap. Lihat saja fakta, Pondok pesantren yang berpola salaf semakin susut dan tidak diminati.

Itulah perubahan nilai-nilai pesantren . Maka apabila pesantren masih menjadi miniatur NU, barangkali kita dapat membayangkan siapa yang akan memimpin jam’iyyah terbesar ini, dan bagaimana pola kepemimpinannya. Mau tidak mau demikian perubahan yang sedang terjadi, yang diawali dengan perubahan paradigma di pesantren. Wallahu A’lam.