Kering Budaya, Warga Bisa Stres

0
803
Diiringi Gamelan: Rais Syuriah PCNU Purworejo Habib Hasan Aqil Ba'abud memberikan sambutan dengan diiringi gamelan. (Foto: Ceprudin)

Purworejo, nujateng.com– Budaya merupakan identitas suatu bangsa. Slogan ini ternyata tak sebatas kata-kata semata. Jauh dari itu, memupuk budaya sebagai tradisi luhur dinilai mampu membuat bangsa ini tercerahkan.

Demikian kira-kira yang hendak disampaikan Bupati Purworejo Makhsun Zein, MA tentang pentingnya memupuk budaya, khususnya di Jawa. Ia menilai, Nahdlatul Ulama (NU) harus mengambil peran dalam mengembangkan nilai budaya. Dengan budaya, bangsa ini tak kehilangan nahkodanya.

“Ini juga saya mendukung gamelan yang merupakan budaya adiluhung Jawa,” paparnya pada acara “Pembukaan Konferensi Cabang Pengurus Cabang NU (PCNU) Purworejo” beberapa waktu lalu. Dalam pembukaan itu, yang menjadi musik pengiringnya adalah gamelan yang merupakan khas budaya Jawa.

Musik gamelan ini menjadi pengiring pembukaan Konfercab merupakan usul Rais Syuriah PCNU Purworejo Habib Hasan Aqil Ba’bud. Habib Hasan merupakan pengasuh Pon-Pes Al-Iman, Desa Buluh Kecamatan Gebang Purworejo.

Biasanya dalam setiap acara-acara besar NU musik pengiringnya adalah rebana. Rebana menjadi musik yang amat pas dengan tradisi Islam-Jawa. Sehingga dalam setiap acara rebana selalu menggema. Namun demikian, meskipun menggunakan musik gamelan, tak meninggalkan musik rebana dan qasidah.

“Ini (budaya) juga salah satu program Pemkab Purworejo. Nguri-uri budaya itu adalah salah satu identitas daerah,” sambungnya. Ia memaparkan jika selama ini Purworejo mempunyai program untuk menjaga tradisi dan budaya bangsa supaya tak pudar diterpa moderenitas.

 

Kehilangan Rujukan

Pada kesempatan itu, Bupati mengutip pernyataan begawan dari Undip Semarang (alm) Prof Eko Budiharjo. Disampaikannya, Prof Eko pada suatu acara pernah mengutarakan, jika suatu bangsa tak mengenal budaya, maka akan kehilangan rujukan.
“Jika daerah tak berpegang pada budaya, maka akan kehilangan referensi. Jika bangsa kehilangan referensi, maka warganya akan setres,” seloroh Bupati, menirukan pernyataan Prof Eko. Sontak, pernyataan ini disambut ger-geran musyawirin. Hal ini mengingat ada ormas yang menafikan luhurnya nilai budaya.

Saat itu, Bupati memberikan sambutan di hadapan Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, H Abu Hapsin Ph.D dan Sekretarisnya Dr. M Arja Imroni. Ada pula Kapolres Purworejo AKBP Roma Hutajulu MSi, Ketua DPRD Purworejo Ir. Luhur Pambudi.

Ketua MUI setempat KH Abdullah Syarqowi, Sekda Drs Tri Handoyo MM, Camat Gebang Khusairi, dan Kapolsek Gebang AKP Sutoyo, serta segenap pengurus MWC, Ranting dan para ulama se-Purworejo.

“Ini luar biasa. NU Purworejo sudah membuktikan kalau menjunjung tinggi nilai-nilai luhur tradisi khas Islam-Jawa. Islam Jawa beda dengan Islam Timur Tengah. Islam Jawa kaya dengan budaya dan tradisi,” sambung Ketua PWNU, Abu Hapsin, Ph.D dalam sambutanya. [Ceprudin]