Jangan Mudah Memberi Cap Syirik

1
807

[sumber: nu.or.id] Assalamu’alaikum wr.  wb. Pak ustad, di kampung-kampung setiap ada hajatan ada kebiasaan pergi ke seorang kiai atau ustadz meminta didoakan agar hajatannya lancar. Kemudian meletakkan cabe dan bawang yang dibikin seperti sate di atas genting, agar tidak turun hujan.  Belakangan kebiasaan tersebut oleh beberapa kelompok dianggap syirik.

Pertanyaan yang ingin kami ajukan, apakah meletakkan cabe dan bawang di atas genting sebagaimana kebiasaan orang-orang yang hajatan di kampung agar tidak turun hujan adalah perbuatan syirik? Atas penjelasannya kami sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Irfan/Pemalang)

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa dalam pandangan kami apa yang dilakukan orang-orang tersebut adalah sebenarnya bentuk dari doa. Artinya hal itu merupakan dari bentuk meterialisasi doa. Pertanyaan apakah materialisasi doa itu pernah dilakukan Rasulullah saw?

Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dikatakan, bahwa Rasulullah pernah melewati dua kuburan, dan mengetahui bahwa kedua penghuni kuburan tersebut sedang disiksa. Sebab yang menjadikan mereka berdua disiksa adalah karena yang satu semasa hidupnya kalau kencing tidak cebok, sedang yan lainnya karena suka mengadu-domba atau membuat provokasi.

Melihat hal itu maka Rasulullah saw mengambil pelepah kurma yang masih basah, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan menancapakan pelepah yang telah dibagi dua pada masing-masing kuburan. Para sahabat lantas mempertanyakan tindakan Rasulullah tersebut. Dan Rasulullah saw lalu bersabda, semoga siksaan keduanya diperingan selama kedua pelepah tersebut belum kering.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ. ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ ، ثُمَّ غَرَزَ فِى كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً . فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا فَقَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا -رواه البخاري

“Dari Ibn Abbas ra dari Nabi saw, bahwa beliau pernah melewati dua kuburan yang kedua penghuninya sedang disiksa. Lantas Nabi-pun bersabda, sesungguhnya keduanya sedang disiksa. Dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah satunya dari keduanya (disiksa) maka ia adalah orang yang semasa hidupnya tidak bisa menjaga air kencingnya. Sedang yang lain maka ia adalah orang yang semasa hidupnya suka mengadu-domba. Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian, lantas menancapkannya di atas masing-masing kubur satu bagian. Para sahabat-pun bertanya, wahai Rasulullah kenapa Anda melakukan hal ini. Maka beliau menjawab, semoga saja keduanya diperingan sikasaanya selama kedua pelepah tersebut belum kering” (H.R. Bukhari)

Apa yang dilakukan Rasulullah saw dengan menancapkan pelepah kurma di atas kuburan masing-masing, itu menunjukkan bahwa beliau melakukan materialisasi doa. Jika kasus penancapan pelepah kurma di atas kuburan yang dilakukan Rasulullah saw ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka kita menemukan adanya kesamaan.

Kesamaan yang kami maksud adalah kesamaan dalam sisi cara berdoanya, yaitu sama-sama mematerialisasi doa. Bedanya yang digunakan Nabi saw adalah dengan pelepah kurma. Sedang mereka orang-orang kampung itu menggunakan cabe dan bawang.

Apa yang dilakukan Nabi saw dengan menancapkan pelepah kurma di atas kuburan jelas bukan masuk kategori syirik. Begitu juga dengan apa yang dilakukan mereka meletakkan cabe dan bawang di atas genting.

Sebab, baik Nabi saw maupun mereka tidak ada maksud mensekutukan Allah swt, tetapi hanya menjadikan sebagai sarana atau perantara berdoa kepada Allah swt. Jadi,  sepanjang menyakini hanya Allah satu-satunya Dzat yang mengabulkan keinginannya, bukan selain-Nya. Maka hal itu tidak jadi persoalan, dan bukan termasuk syirik.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat. Dan saran kami, bersikaplah hati-hati, dan jangan mudah memberi cap syirik kepada sesuatu yang secara lahiriah dianggap bertentangan dengan keyakinan kita sebelum kita memahami hakekatnya. (Mahbub Ma’afi Ramadlan)