Wahabisme Masuk Melalui Jamaah Haji

1
852

Semarang, nujateng.com- Paham wahabi menyebar ke Indonesia, dari Saudi Arabia salah satunya melalui jamaah haji. Paham yang berupusat di beberapa kota di Saudi seperti Mekah Madinah, Jeddah itu merambah ke jamaah-jamaah haji yang belum memahmi aliran-aliran dalam Islam.

Hal ini terungkap dalam diskusi dan pengukuhan Asosiasi Bina Haji dan Umrah (ASBIHU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Minggu (23/3) kemarin.

Diskusi yang digelar di Gedung PWNU Jalan Dr Cipto 180 Semarang ini menghadirkan narasumber Kiai Nuril Huda dan Kiai Hafidz Taftazani Pengurus Pusat Asbihu PBNU. Kedua pendiri Asbihu ini menyampaikan, gerakan wahabisme di Indonesia sudah menyebar hampir ke semua kalangan.

“Wahabisme ini jelas sangat bertentangan paham ahlussunnah wal jamaah. Mereka mengaharm-haramkan orang untuk berziarah dan juga membongkar makam keluarga nabi di dekat masjid madinah. Padahal selama ini, kita sangat menghormati makam-makan leluhur Islam,” tutur Deklarator Asbihu Kiai Hafidz Taftazani.

Sebagai informasi, kaum wahabise di Saudi telah meratakan kuburan makam para sahabat Nabi Muhammad SAW di Ma’la, di Makah. Bahkan, tempat kelahiran kanjeng Nabi dijadikan kandang unta.

Sekarang ini, situs-situs sejarah Islam telah dilenyapkan oleh kaum Wahabi. Satu-satunya situs yang masih tersisa adalah makam Nabu Muhammad di Madinah. Itu yang kemudian menjadi agenda faktor berdirinya NU, karena menyikapi gerakan wahabi yang telah memporakporandakan situs-situs Islam.

 

Menularkan

Hafidz menjelaskan, paham wahabi merasuk kepada para jamaah haji melalui tatap muka langsung dan juga melalui tulisan-tulisan. Diterangkannya, orang-orang wahabi di Saudi menularkan pahamnya dilakukan diberbagai tempat termasuk masjid dan makam.

“Di Saudi ini, betapa gencarnya orang Wahabi memproklamirkan pahamnya. Di semua tempat mereka proklamirkan, termasuk di masjid, di tempat-tempat iabadah, dan makam. Mereka tak bosan-bosan menggemborkan paham wahabi. Ini dilakukan selain juga memberi buku-buku yang beraliran wahabi,” ujarnya.

Bagi jamaah yang tidak memahami paham aliran wahabi, maka mereka telan informasi itu secara mentah-mentah. Berlatar itu, mereka menganggap perlu untuk mendirikan Asbihu untuk membimbing para jamaah haji supaya tidak terasuki paham-paham yang membahayakan bagi persatuan dan kesatuan umat Muslim di Indoneisa ini.

Dalam perkembangannya, jelas Hafidz, saat ini wahabisme sudah mulai menyebar dengan sangat cepat di Indonesia. Dia memperkirakan dari jumlah 70 persen Muslim di Indonesia 10 persennya adalah beraliran wahabi yang pusat di Saudi dimana telah menghancurkan makam keluarga Nabi.

“Sekarang ini masjid-masjid di kota, seperti di Jakarta, hampir semua dikuasai oleh orang-orang yang bercelana cingkrang. Mungkin juga sudah lebih dari 10 persen, inilah berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai umat terpecah-pecah karena paham inforan seperti Wahabi,” tandasnya. [Ceprudin]