Romo Budi Merasa Sehati Dengan NU

0
799

Semarang, nujateng.com- Romo Aloysius Budi Purnomo Pr merasa dirinya sehati dengan keyakinan Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan ini merasa tak ada perbedaan dengan NU soal pentingnya toleransi dan perdamaian.
“Dengan NU kami merasa sehati dan seperasaan. NU merasa seperti sodara kami dan orang NU pun kerap bilang kalau Katolik itu dekat dengan NU,” kata Romo pada Focus Group Discussion (FGD) “lintas agama” yang diadakan Lakpesdam PWNU Jateng, Jumat (17/10/14).
Diskusi yang digelar di kantor NU Jateng, Jalan Dr Cipto 180 Semarang ini diikuti oleh lima belas orang. Kesemuanya merupakan perwakilan masing-masing agama dan kepercayaan.
Romo menyatakan, warga NU terkenal sangat figuratif, sama seperti yang ada pada Katolik. Ketika ada satu tokoh yang sangat alim, maka itu akan diikuti oleh semua umatnya, seperti halnya Gus Dur semasa hidup.
“Ini menjadi kelebihan dan menjadi kekurangan dalam membina perdamaian dan toleransi. Namun dengan kebersamaan Katolik dengan NU, sama-sama saling melengkapi kekurangan yang ada. Kekurangan yang ada pada Katolik dilengkapi dengan NU, begitu juga sebaliknya,” harapnya.
Romo juga memahami, untuk memperjuangkan kesetaraan hak antar agama diinternal NU juga banyak tantangan. Dalam pandangannya, tokoh internal NU yang getol memperjuangan keberagaman tidak menutup kemungkinan banyak mendapat perlawanan dari internal NU sendiri.
“Karena itu kami dari Gereja Katolik sangat berharap NU menjadi pilar untuk hidup yang harmonis. Tetap membela kesetaraan dan hidup dalam kepatutan. Karena NU ormas besar dan banyak tokoh-tokoh besar, kami harap itu bisa membawa kearah hidup berdampingan,” tambahnya.

Damai Hingga Akar Rumput
Senada dengan itu disampaikan pendeta dari GKJTU Krangkeng, Kabupaten Semarang Chlaodhius Budhianto. Ia berharap NU banyak berperan dalam membina perdamaian di masyarakat akar rumput. Pemahaman toleransi yang diperjuangkan NU haru sampai pada level akar rumput. Ini berangkat dari kasus-kasus kekerasan di masyarakat.
“Pemahaman toleransi yang dikembangkan NU harus sampai ke akar rumput. Jadi kalau saya lihat pemahaman toleransi di internal NU belum sampai pada akar rumput. Karena masih banyak orang NU di level akar rumput yang mudah terprovokasi oleh Islam-Islam garis keras,” tuturnya.
Semua yang hadir dalam diskusi ini sepakat bahwa hidup harus bebas dari diskriminasi. Baik itu diskriminasi horisontal (dilakukan oleh sesama masyarakat) maupun vertikal (dilakukan oleh negara. Persoalan ini tampaknya belum selesai di lapangan.
Perwakilan umat Khong Hu Chu Andi Ciok mengutarakan hal seperti itu. Ia menyampaikan bahwa secara sosial kami merasa tidak ada masalah. Ia menyampaikan hubungan dengan warga tidak ada konflik dan baik-baik saja.
“Namun justru kami mendapatkan ketidakadilan dari pemerintah. Sampai sekarang kami belum bisa mendirikan Sekolah Agama Khong Hu Chu (Stakong) di Semarang. Padahal dari Kemenag pusat kami sudah mendapat izin. Namun buktinya sampai sekarang kami belum bisa mendirikan Stakong itu,” keluhnya. [Ceprudin]